Nisel, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pada saat Kabupaten Nias Selatan Propinsi Sumatra Utara dimekarkan berpisah dari kabupaten Nias induk, hanya ada delapan Kecamatan yakni : Telukdalam, Lahusa, Gomo, Amandraya ,Lolowau, Lolomatua, PP. Batu, Hibala dan 212 Desa dan 2 Kelurahan.
Selasa 27/10/2020.
Namun seiring berjalannya waktu, para pemimpin di Nisel bertekad mengupayakan pemekaran Desa dan Kecamatan yang bertujuan untuk menciptakan peluang-peluang kemajuan dimasa mendatang.
Seperti yang dilakukan Idealisman Dachi Bupati Nias selatan dengan penuh tekad ia berhasil memekarkan dari 17 Kecamatan menjadi 18 serta dari 354 Desa menjadi 459 Desa.
Tentu saja hal itu bukan pekerjaan yang mudah, perlu konsentrasi penuh, kekuatan jaringan dan pendukung lainnya demi mewujudkan pemekaran wilayah di Nisel itu.
Dimasa kepemimpinannya, Kecamatan berhasil dimekarkan dari 18 menjadi 35 dan dari 354 Desa menjadi 459 Itu dilakukannya untuk mewujudkan terbukanya peluang kesuksesan dari berbagai aspek.
Tentu saja, pemekaran yang telah dilakukan pemimpin terbaik Nisel itu membawa berkah bagi masyarakat.
Setelah mekar, pemerintah pusat menggelontorkan Dana Desa dan pastinya Nisel mendapatkan kuota yang cukup banyak setidaknya ratusan miliar per tahun diterima oleh pemerintah Desa untuk membenahi infrastruktur desa, pemberdayaan masyarakat yang berdampak pada geliat ekonomi.
Kabupaten Nias selatan merupakan wilayah yang mendapatkan alokasi besar bahkan lebih banyak dari kabupaten lainnya, karena pemberian anggaran dari pusat adalah berdasarkan jumlah Desa dan warganya.
Delvan sitetaru-taru menyatakan bahwa ini merupakan berkat bagi masyarakat Nias selatan dengan adanya terobosan dari kedua pemimpin itu, program pusat dapat disambut dengan baik.
Pemimpin memang harus memiliki jiwa dan karakter visioner yang memikirkan bagaimana nasib rakyatnya kedepannya, tentunya dengan melakukan berbagai cara yang cerdas dan berani.
Pemimpin bukan hanya duduk tenang dibalik meja, hanya mengelola anggaran yang sudah ada dan berpangku tangan merenungi nasib tanpa ada terobosan.
Pemimpin seperti itu tidak layak dipertahankan, hanya memikirkan keuntungan pribadi, kenyamanan keluarga akan tetapi tidak peduli dengan jeritan rakyatnya yang membutuhkan perhatian.
Pemimpin yang berlindung dibalik slogan sederhana namun sesungguhnya menimbun harta, adalah merupakan pemimpin egois, mengorbankan rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok dan kroninya,” Bebernya”
Sudah saatnya rakyat bergerak menolak cara-cara penjajahan seperti itu dan mendukung Pemimpin yang benar-benar pro rakyat dan sudah teruji dan terbukti memperjuangkan rakyat meski apapun resiko nya.”Tegas Delvan sitetaru-taru”.








