LENSANUSANTARA.CO.ID – Salah satu kajian rutin 2 pekan sekali pada Hari Selasa di Masjid al-Mubarokah, Ketajen, Gedangan, Sidoarjo adalah kajian hadis-hadis pilihan. Kajian hadis dipusatkan pada kitab Mukhtarul Ahadis karya al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi. Pada Selasa hari ini, 02 Januari 2023, kajian sudah sampai pada tema “amal yang paling dicintai Allah”.
Hadis terkait ini diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, dari Aisyah, Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal-amal yang paling dicintai Allah adalah Amal yang dilakukan secara kontinu/terus menerus, meskipun (amal tersebut) sedikit”.
Hadis tersebut sebenarnya mengikuti redaksi Imam Muslim No.1866. Pada riwayat ini pula, perawi yang mendapatkan hadis ini dari Aisyah, yakni al-Qasim bin Muhammad, memberikan keterangan bahwa :
وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ.
“Aisyah itu jika melakukan sebuah amalan tertentu maka dia melakukannya secara terus-menerus”.
Hadis yang semakna juga terdapat dalam riwayat Bukhari No.5861, al-Nasai No.762, Ahmad bin Hanbal No. 26386, al-Baihaqi No.4342, 5019, dan beberapa kitab hadis lain. Pada redaksi Imam Bukhari, selain menggunakan teks “ma dama”, bukan “adwamuha”, redaksi di Imam Bukhari juga terdapat kalimat panjang sebelum teks hadis tersebut, yakni :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
“Wahai para manusia, beramallah kalian sesuai kadar kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan, hingga kalian semua sendiri yang bosan (terhadap amal tersebut).
Sesungguhnya, Amal-amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling “langgeng”/ terus menerus, meskipun (amal tersebut) sedikit”
Beberapa keterangan ini memberikan kesimpulan yang menarik, bahwa selain menunjukkan sifat rahman dan rahim Allah terhadap hambanya yang beramal shalih, meskipun sedikit kadar dan waktu pelaksanaannya. Namun jika dilakukan secara istiqomah, hal itu bisa menjadi amal yang dicintai oleh Allah.
Kuncinya adalah keberlanjutan, kedisiplinan, dan ketekunan. Tanpa ada hal itu, ibadah yang kita lakukan, meskipun itu banyak kadarnya dan waktu pelaksanaannya panjang, ibadah hanya “tumbuh sekali, lalu tumbang”. Hanya dilakukan sekali, tapi setelah itu ditinggal pergi.
Namun jika suatu perbuatan tertentu dilakukan dengan istiqomah, terus menerus, diiringi dengan kedisiplinan dan ketekunan menjadi “repetitive actions”, maka perbuatan tersebut akan dicintai Allah, bahkan perbuatan tersebut bisa menghantarkan seseorang menjadi pribadi yang sukses, berbakat, dan digemari oleh orang lain.
Oleh: Mohammad Ikhwanuddin, Pendidik di UM Surabaya