Kesehatan

Dinkes Probolinggo Lakukan Peningkatan Kapasitas 22 Petugas Kesehatan Dalam Triple Eliminasi

×

Dinkes Probolinggo Lakukan Peningkatan Kapasitas 22 Petugas Kesehatan Dalam Triple Eliminasi

Sebarkan artikel ini
Plt Kepala Dinkes Probolinggo

Probolinggo, LENSANUSANTARA.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam triple eliminasi. Kegiatan ini diberikan kepada 22 orang yang berasal dari RSUD Waluyo Jati, RSUD Tongas, RSIA Fatimah, RS Wonolangan, RS Graha Sehat, RS Rizani, Puskesmas Paiton, Puskesmas Kraksaan, Puskesmas Condong, Puskesmas Leces dan Puskesmas Lumbang.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi kebijakan dan analisa situasi HIV, sifilis dan hepatitis di Kabupaten Probolinggo, kebijakan dan analisa situasi pelayanan ANC terpadu di Kabupaten Probolinggo, tatalaksana HIV, sifilis, hepatitis pada ibu hamil, tatalaksana bayi dari ibu HIV, sifilis dan hepatitis positif, tatalaksana sifilis dan penyakit kelamin pada dewasa dan anak serta tatalaksana pra rujukan dan pengobatan hepatitis dan HIV.

Example 300x600

Materi tersebut disampaikan oleh fasilitator/narasumber terdiri dari Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo Sri Wahyu Utami, dr. Hj Yessi Rahmawati, dr. Komang Ayu R Purnamaningsih, dr. Ummi Ziyadatul Faizah, dr. Fransisca Sylvana dan Bidan Endang Hartutik.

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Nina Kartika mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk update kebijakan dan strategi dalam triple eliminasi.

“Selain itu, meningkatkan kapasitas petugas kesehatan dalam tata laksana dan rujukan triple eliminasi, meningkatkan jejaring program triple eliminasi dengan rumah sakit dan klinik serta meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dalam pencatatan dan pelaporan triple eliminasi,” katanya.

Nina menjelaskan, HIV dan IMS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan di Indonesia yang berdampak pada masalah sosial, ekonomi dan budaya. HIV dan IMS adalah penyakit yang salah satu cara penularannya melalui hubungan seksual, namun ada penyakit infeksi menular seksual yang dapat ditularkan secara vertikal yaitu dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke anaknya seperti penyakit HIV, sifilis dan hepatitis.

“Dimana penyakit HIV, sifilis dan hepatitis dapat ditularkan selama kehamilan, persalinan dan menyusui dan dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian sehingga berdampak buruk pada kelangsungan dan kualitas hidup anak. Namun demikian, hal ini dapat dicegah dengan intervensi sederhana dan efektif berupa deteksi dini (skrining) pada saat pelayanan antenatal dan penanganan dini,” jelasnya.

Menurut Nina, di Kabupaten Probolinggo data cakupan skrining HIV pada kelompok sasaran orang dengan risiko terinfeksi HIV di tahun 2023 sudah memenuhi target yaitu 100% dengan temuan kasus baru 310 kasus. Namun cakupan pengobatan kasus baru HIV masih 94,8%. Skrining HIV dan sifilis pada ibu hamil sudah dilaksanakan dengan cakupan skrining HIV pada ibu hamil tahun 2023 adalah 82,19% dan cakupan skrining sifilis 93,53% dengan hasil ibu hamil positif HIV sebanyak 22 orang dan ibu hamil positif sifilis 6 orang.

“Sedangkan untuk cakupan pengobatan HIV pada ibu hamil 100% dan cakupan pengobatan sifilis pada ibu hamil 100%. Bayi lahir dari ibu HIV ada 3 bayi dan belum mendapat profilaksis ARV dan kotrimoksazol serta belum dilakukan pemeriksaan EID. Bayi lahir dari ibu sifilis ada 5 bayi, 2 diantaranya sudah diperiksa titer dengan hasil titer bayi lebih rendah dari titer ibu,” terangnya.

Sedangkan jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B 16.919 dari target 18.024 (93,87%) dan yang reaktif hbsag 276 (1,63%0 dari ibu hamil yang diperiksa. Jumlah bayi lahir dari ibu reaktif 94 dan bayi yang diberi HBIG 94. Bayi 9-12 bulan yang diperiksa hbsag 34 dan yang reaktif 2.

“Dari data tersebut terlihat bahwa cakupan skrining HIV, sifilis dan hepatitis pada ibu hamil masih terdapat kesenjangan data, pengobatan HIV masih kurang serta skrining HIV dan sifilis pada ibu hamil dan pemantauan bayi belum tercapai secara optimal,” pungkasnya. (*/Laili)

**) IIkuti berita terbaru Lensa Nusantara di Google News klik disini dan jangan lupa di follow.