Daerah

Mengamen Sejak Kecil, Kakak Beradik Kumpulkan Uang Demi Dua Orang Anak

955
×

Mengamen Sejak Kecil, Kakak Beradik Kumpulkan Uang Demi Dua Orang Anak

Sebarkan artikel ini



‎Rembang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Dua pengamen wanita keliling terlihat rutin bernyanyi di sejumlah area perkotaan Kabupaten Rembang. Mereka adalah Tina (24) dan adiknya, Yusni (18), warga Desa Sumberjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang.

‎Keduanya mulai mengamen sejak pukul 09.00 WIB hingga15.00 WIB dengan berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, baik di kawasan pedesaan maupun kafe-kafe. Tak hanya siang hari, pada malam hari mereka kembali turun ngamen mulai pukul 23.00 WIB hingga 01.00 WIB dini hari demi mencukupi kebutuhan hidup.

‎Tina, sebagai kakak kandung Yusni, mengaku mengamen demi menghidupi dua orang anaknya. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, aktivitas bernyanyi di jalan menjadi pilihan untuk bertahan hidup. Sebelumnya, Tina juga pernah mengikuti kegiatan seni tradisional ketoprak, yang menjadi bekal kemampuannya dalam bernyanyi dan tampil di hadapan umum.

‎“Pendapatan tidak menentu. Kalau ramai bisa mendapatkan sekitar Rp150 ribu per hari, namun jika sepi paling sedikit hanya Rp100 ribu,” ungkap Tina di hadapan awak media, Sabtu dini hari, 31Januari 2026, di Desa Ketanggi, Kecamatan Rembang.

‎Dengan peralatan sederhana, Tina dan Yusni menyanyikan lagu-lagu populer untuk menarik simpati para pengguna tongkrongan. Meski harus menghadapi panas, kelelahan, dan risiko keselamatan dirinya, keduanya tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

BACA JUGA :
Optimalkan Potensi Unggulan, Bumdes KML Rembang Tebar 10.000 Benih Ikan Bandeng

Pengamat budaya Rembang Agus Sutomo merasa miris dan kasihan kepada dua pengamen wanita kakak beradik dengan suaranya yang bagus hanya bisa menjadi pengamen. Harusnya pemerintah daerah menjemput bola dengan potensi potensi yang ada.

Example 300x600

Sudah waktunya pemerintah daerah, pemerintah provinsi Jawa Tengah memikirkan banyak hal, tidak hanya pembangunan infrastruktur saja akan tetapi seni kebudayaan.”Menurutnya seniman di Rembang banyak yang hidup susah, dan ini harus ada tindakan yang nyata dari pemerintah daerah, pemerintah Provinsi dan pemerintah Pusat,” jelasnya.

BACA JUGA :
Ribuan Wisatawan Padati Pantai KJB Rembang selama Libur Natal

Kearifan lokal mana yang harus disentuh itu harus disentuh, ini contoh kecil saja yang ada didepan mata saja. Banyak seni di kabupaten Rembang mati suri. Kita sudah kehilangan jati diri bangsa, karena mereka lebih menyukai musik dangdut, musik barat, itu sudah menghilang kearifan lokal.

BACA JUGA :
Program Gelisah Resmi Aliri Listrik di Sawah Desa Waru Rembang

Orang melakukan pernikahan sekarang ini tidak ada rohnya, Gending Kebo Giro tidak pernah diputar sama sekali. Orang berpesta dengan Standing Party yang tinggalan bela da, bukan kearifan lokal Bangsa Indonesia,” jelasnya

Ia berharap pemerintah daerah agar mengumpulkan komunitas komunitas yang ada di Kabupaten Rembang untuk menyelenggarakan lomba nyanyi. betapa bangganya kita menjadi orang Jawa. Lagu campursari suaranya bagus, karena dia punya basic campursari. Kita orang Jawa wis lali Jawane.

(putra)