Kerinci, LENSANUSANTARA.CO.ID – PT Kerinci Merangin Hidro (KMH) menggelar kegiatan Coffee Morning bersama awak media dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) se-Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Hotel Mahkota, Kota Sungai Penuh, Kamis (5/2/2026).
Dalam forum silaturahmi dan diskusi tersebut, Manager PT KMH, Asroli, memaparkan sejumlah penjelasan terkait operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Merangin, khususnya menanggapi isu menyusutnya air Danau Kerinci yang belakangan ini menjadi perhatian publik.
Asroli menjelaskan, kebutuhan air untuk mengoperasikan PLTA Merangin mencapai sekitar 100 meter kubik per detik. Namun, kebutuhan tersebut tidak sepenuhnya bersumber dari Danau Kerinci.
“Jika hanya mengandalkan air Danau Kerinci, tentu danau berpotensi mengalami kekeringan. Karena itu, PLTA tidak hanya menggunakan air danau, tetapi lebih banyak memanfaatkan aliran Sungai Batang Merangin serta anak-anak sungai lainnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, dari total kebutuhan air pembangkit dengan tiga unit turbin, hanya sekitar 40 persen yang berasal dari Danau Kerinci.
Sementara 60 persen lainnya bersumber dari Sungai Batang Merangin dan sungai-sungai pendukung lainnya.
Lebih lanjut, Asroli menegaskan bahwa penyusutan air Danau Kerinci tidak disebabkan oleh aktivitas operasional PLTA Merangin.
Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah faktor iklim.
Ia mengungkapkan, kondisi kekeringan saat ini turut dipengaruhi oleh adanya modifikasi cuaca yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Modifikasi cuaca tersebut bertujuan menekan potensi hujan ekstrem di wilayah Sumatera yang masih dalam tahap pemulihan pascabencana.
“Modifikasi cuaca ini menyebabkan hujan tidak turun, meskipun secara pola musim, Januari masih termasuk periode basah,” ujarnya.
Asroli juga memaparkan hasil pemantauan elevasi dan debit air Danau Kerinci pada awal Januari 2026.
Berdasarkan data tersebut, penurunan muka air danau terjadi secara bertahap dan konsisten, tanpa adanya penurunan ekstrem atau kondisi yang tidak wajar.
Penurunan muka air tersebut sejalan dengan kondisi inflow yang relatif rendah dan tidak berkelanjutan.
Hal ini mencerminkan adanya defisit curah hujan di wilayah daerah tangkapan air Danau Kerinci dalam beberapa waktu terakhir.
Dari hasil analisis grafik elevasi muka air, inflow, dan outflow, diketahui bahwa debit air keluar dari danau dijaga tetap stabil serta disesuaikan dengan ketersediaan air masuk.
Tidak ditemukan indikasi pelepasan air berlebihan maupun pola operasi tertentu yang menyebabkan penurunan elevasi danau secara signifikan.
Selain itu, penyerapan energi oleh PLN juga tercatat mengalami penurunan seiring dengan kondisi tampungan Waduk Bendungan Kerinci, dan tidak secara langsung mengikuti volume air di Danau Kerinci. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi muka air danau tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh aktivitas PLTA.
“Berdasarkan kajian hidrologis, penurunan muka air Danau Kerinci pada periode ini merupakan respons alami sistem danau terhadap kondisi iklim dan rendahnya curah hujan, bukan akibat gangguan teknis maupun kesalahan pengelolaan sumber daya air,” tegas Asroli.
Ia berharap seluruh pihak terkait dapat terus melakukan pemantauan secara berkala guna menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan ketersediaan air Danau Kerinci tetap terjaga, terutama dalam menghadapi variabilitas iklim ke depan.
Pada kesempatan tersebut, Asroli kembali menegaskan bahwa penyusutan air Danau Kerinci bukan disebabkan oleh operasional PLTA Merangin.












