JEMBER, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Tim Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turun langsung ke lapangan untuk mengecek kerusakan infrastruktur pascabanjir jembatan Cinta di Desa Jubung dan Jembatan Merah Putih Desa pakis Kecamatan Panti, Minggu (15/2/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Jember, Helmi Luqman, mengatakan banjir kali ini tergolong luar biasa karena curah hujan sangat tinggi dan baru terjadi dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir. Dampaknya dirasakan ribuan kepala keluarga serta merusak sejumlah infrastruktur desa, kabupaten hingga provinsi di wilayah Kabupaten Jember.
“Kita melihat beberapa titik yang terdampak banjir sangat luar biasa. Curah hujan kali ini ekstrem dan berdampak pada ribuan KK di Jember serta sejumlah infrastruktur,” ujarnya.
Helmi menambahkan, berdasarkan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem diperkirakan masih akan terjadi hingga 26 Februari 2026, terutama pada 20–26 Februari. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta tetap waspada.
“Pemkab Jember bersama pemerintah provinsi dan relawan telah menyiapkan posko bencana di setiap kecamatan dan desa, termasuk dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak,” ucapnya.
Selain itu, dilakukan pendataan kerusakan yang meliputi tiga jembatan serta sekitar 500 hingga 1.000 hektare lahan pertanian yang terdampak banjir.
“Tercatat pula dua bendungan besar di wilayah hulu yang menjadi perhatian pemerintah provinsi. Melalui koordinasi dengan Bupati Jember, Pemprov Jatim meminta agar segera dilakukan pendataan untuk mendapatkan prioritas perbaikan infrastruktur terdampak,” paparanya.
Sementara itu, Kasi Pembangunan UPT PJJ (Pemeliharaan Jalan dan Jembatan) PU Bina Marga Provinsi Jatim Budi Hartono, menjelaskan salah satu titik krusial berada di Sungai Cempaka atau Jembatan Merah Putih. Menurutnya, lebar bentang jembatan tidak sebanding dengan penampang sungai.
“Penampang sungainya sekitar 16 meter, tetapi bentang basah jembatannya hanya 12 meter. Dengan ketinggian banjir dua meter saja sudah tidak mampu menampung debit air,” jelasnya.
Ke depan jembatan tersebut dapat diperpanjang dan diperlebar karena menjadi penghubung antara Dusun Cempaka dan Pakis Lor.
Selain itu, jembatan gantung di aliran Kali Bedadung juga terdampak akibat tingginya debit air yang sulit diprediksi. Meski secara panjang dan lebar dinilai memadai, ketinggian jembatan yang kurang menyebabkan abrasi saat banjir besar terjadi.
“Terkait langkah perbaikan, pihak PU Bima Marga provinsi Jatim masih melakukan inventarisasi kerusakan dan akan berkoordinasi lebih lanjut, dengan pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk menentukan skema penanganan dan perbaikan infrastruktur,” pungkasnya














