Tangerang, LENSANUSANTARA.CO.ID — Taman Makam Pahlawan Taruna menjadi ruang belajar sejarah bagi siswa SDN Tangerang 2 dalam menanamkan nilai kepahlawanan sejak dini. Sekolah tersebut menggelar kunjungan edukatif dengan melibatkan sekitar 70 siswa kelas 5 yang didampingi langsung oleh guru mereka, Renita.
Jejak Sejarah Pertempuran Lengkong
TMP Taruna merupakan situs sejarah tempat dimakamkannya 48 perwira dan taruna Akademi Militer Tangerang yang gugur dalam Pertempuran Lengkong pada 25 Januari 1946.
Peristiwa tersebut bermula ketika Mayor Daan Mogot memimpin para taruna untuk melucuti senjata tentara Jepang di Desa Lengkong (kini wilayah Serpong). Dalam situasi Indonesia yang baru merdeka, misi tersebut dilakukan untuk mengamankan persenjataan Jepang.
Namun, terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pengepungan dan baku tembak. Puluhan taruna dan perwira muda gugur dalam insiden tersebut, termasuk Mayor Daan Mogot. Para korban awalnya dimakamkan di lokasi kejadian, sebelum kemudian dipindahkan pada 1946 ke lokasi yang kini dikenal sebagai TMP Taruna di Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang.
Di dalam kompleks ini juga berdiri Museum Juang Taruna yang menyimpan dokumentasi foto perjuangan, relief diorama Pertempuran Lengkong, serta literatur sejarah yang dapat diakses pelajar dan masyarakat umum. Setiap 25 Januari, upacara peringatan rutin digelar untuk mengenang peristiwa tersebut.
Pembelajaran Langsung dari Situs Sejarah
Dalam kunjungan tersebut, Renita selaku guru kelas 5 SDN Tangerang 2 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan penguatan nilai nasionalisme.
Ketika diwawancarai media lensanusantara.co.id, Renita menegaskan bahwa pembelajaran sejarah tidak cukup hanya melalui buku teks.
“Kami ingin anak-anak mengetahui dan mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur. Dengan datang langsung ke sini, mereka bisa melihat sendiri makam para pahlawan dan memahami peristiwa sejarahnya,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman belajar secara langsung di lokasi bersejarah mampu membangun kesadaran emosional siswa terhadap arti perjuangan. Ia juga menekankan pentingnya sikap khidmat saat mengikuti upacara bendera di sekolah sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan.
“Upacara bukan sekadar rutinitas. Itu momen untuk mengingat perjuangan para pahlawan. Anak-anak harus lebih fokus dan menghargai jasa mereka,” katanya.
Sementara itu, pengelola TMP Taruna, Muhaimin, mengapresiasi sekolah-sekolah yang aktif membawa siswa belajar sejarah secara langsung. Ia berharap generasi muda Kota Tangerang mampu menanamkan jiwa kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kunjungan edukatif yang dilakukan SDN Tangerang 2, TMP Taruna diharapkan terus menjadi pusat pembelajaran sejarah yang hidup — tidak hanya sebagai monumen perjuangan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter generasi penerus bangsa.
(Susanto)








