JEMBER, LENSANUSANTARA.CO.ID – Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi milik Pemerintah Kabupaten Jember, meluncurkan program Hospital Without Wall, untuk mengatasi kurang lebih 500 bayi dan balita yang mengalami stunting di Kecamatan Tanggul dan Jombang Kabupaten Jember.
Program ini dilakukan sebagai langkah proaktif untuk mengatasi kesulitan dan hambatan menghadirkan bayi yang mengalami stunting ke rumah sakit, Jum’at (20/2/2026).
Direktur RSD dr. Soebandi Nyoman Semita, mengatakan bahwa salah satu hambatan menghadirkan Bayi tersebut, karena keberadaan bayi stunting masih menjadi Stigma negatif di kalangan masyarakat.
“RSD dr Soebandi Jember, harus proaktif datang ke kedua kecamatan tersebut, melalui Program sosial ini bernama Hospital Without Wall. Yakni layanan yang tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tapi juga di kecamatan sasaran,” ujarnya.
Menurut dr Nyoman untuk melaksanakan program tersebut, pihaknya menganggarkan Rp 1,8 miliar untuk menyediakan susu formula bagi kurang lebih 500 bayi dan balita yang mengalami stunting di Kecamatan Tersebut.
“Kami tidak hanya melayani di rumah sakit, tapi juga ke kecamatan. Sesuai dengan kemampuan anggaran kami, yang baru dilaksanakan di dua kecamatan tersebut,” katanya.
Lebih lanjut, program ini diagendakan selama tiga bulan sejak Januari 2026 dan sudah berjalan selama satu bulan setengah. Bahkan pihaknya sudah memberangkatkan dua dokter, tiga dokter muda, perawat, bidan, dan juga anggota Dharma Wanita untuk jemput bola mengantarkan susu formula untuk masing-masing balita dan mengecek kondisi mereka.
“Kami bekerja sama dengan kader posyandu dan petugas bintara pembina desa (babinsa) TNI untuk mendorong kesadaran para orang tua yang memiliki balita stunting,” ungkapnya.
Ia menegaskan harus jemput bola, karena sulitnya menghadirkan bayi ke rumah sakit, baik mengumpulkan atau mengantarnya. Ditambah lagi dengan banyaknya antrean di rumah sakit, yang hingga sore. Baik bayi, ibu bayi, pendamping akan kelaparan.
“Ibunya lapar, pendamping lapar, bayinya menangis, bahkan banyak biaya yang harus dikeluarkan. Karena itu, kami membuat terobosan datang ke Kedua Kecamatan Jombang dan Tanggul,” imbuhnya.
Penyebutan istilah stunting kepada anak, menjadi Stigma negatif, sehingga masyarakat enggan membawa anaknya ke layanan kesehatan.
“Padahal Balita dan bayi stunting ini dipicu banyak faktor, tidak hanya kemiskinan, yakni Ibu yang melahirkan prematur, mengalami kelainan jantung, sesak saat melahirkan. Hal ini pasti bayinya akan terganggu, karena makan sulit tumbuh pun sulit,” paparnya.
Nyoman Semita menambahkan, 500 bayi tersebut, Kurang 200 balita berada di Kecamatan Jombang dan 300 balita di Kecamatan Tanggul. Selama program ini, Masing-masing balita membutuhkan 24 kotak susu formula.
“Targetnya, setelah tiga bulan jumlah balita yang tidak stunting mencapai 80 persen dari penerima bantuan tersebut,” harapnya.
Tentu saja lanjut Nyoman, upaya RSD dr. Soebandi tidak mudah. Meski susunya sudah diberikan, namun ada yang tidak diminum. Tentu Jika susunya tidak diminum, akan berpengaruh pada kesuksesan pelaksanaan program ini.
Salah problem penanganan ini, Meski susunya sudah diberi , tapi susunya tidak diminum, ya biasalah dikampung. Ini harus ada yang nyuapin,” jelasnya.
“Karena pihaknya harus kerjasama dengan Kader Posyandu, bidan, RT/RW dan pihak lainnya untuk memberikan pendampingan supaya susunya itu diminum,” tandasnya














