JEMBER, LENSANUSANTARA.CO.ID – Genap satu tahun kepemimpinan Bupati Jember Muhammad Fawait, sejumlah program prioritas mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Mulai dari Universal Health Coverage (UHC) Prioritas, bantuan pertanian, perbaikan infrastruktur jalan, percepatan blangko e-KTP, revitalisasi gedung pendidikan hingga pembenahan pelayanan publik, menjadi capaian yang disampaikan pada Jumat (20/2/2026).
Bupati Jember Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait mengatakan, 20 Februari menjadi momentum mengenang satu tahun pelantikan kepala daerah secara serentak yang pertama kali dilakukan langsung oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Pada saat pelantikan itu, saya melihat data Jember berada di posisi yang memprihatinkan. Angka kemiskinan ekstrem termasuk tertinggi di Jawa Timur. Bahkan dalam 10 tahun terakhir, angka kemiskinan kita tidak pernah turun di bawah 200 ribu jiwa. Ada pengelolaan, tetapi tidak ada pengurangan signifikan,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya angka kemiskinan berdampak langsung pada sektor kesehatan. Selama satu dekade terakhir, Jember tercatat memiliki angka stunting yang tinggi, serta angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang memprihatinkan.
“Rata-rata kemiskinan berada di wilayah pinggiran desa, perkebunan dan pesisir. Maka tidak heran jika angka stunting, AKI dan AKB juga banyak terjadi di wilayah pedesaan,” jelasnya.
Di sektor pendidikan, Pemkab Jember mencatat sedikitnya 1.532 gedung sekolah dalam kondisi rusak sedang hingga berat. Kondisi ini berdampak pada turunnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dibandingkan kabupaten lain di Jawa Timur.
Tak hanya itu, infrastruktur pertanian juga menjadi perhatian. Hampir 70 persen jaringan pendukung pertanian dalam kondisi kurang baik. Luas panen dan produktivitas padi yang sempat menjadi unggulan di Jawa Timur pun terus mengalami penurunan.
“Tak hanya itu, saat awal menjabat, kondisi kesehatan juga dalam situasi krisis. Terdapat tanggungan utang sekitar Rp214 miliar di tiga rumah sakit daerah. Bahkan stok oksigen saat itu hanya cukup untuk 15 hari dan muncul informasi penghentian suplai obat serta kebutuhan medis,” ungkapnya.
Salah satu rumah sakit yang terdampak adalah RSD dr. Soebandi Jember yang saat itu hampir kolaps akibat keterbatasan anggaran dan beban utang.
Menghadapi situasi tersebut, Pemkab Jember memprioritaskan sektor kesehatan dengan mengupayakan predikat UHC Prioritas. Meski anggaran APBD 2025 murni dinilai belum mencukupi, Pemkab melakukan lobi ke pemerintah pusat dan BPJS Kesehatan untuk memastikan masyarakat tetap mendapat layanan kesehatan gratis.
“Kami memastikan mulai 1 April 2025, masyarakat Jember bisa berobat gratis tanpa harus menggunakan surat keterangan miskin. Premi BPJS kami bayarkan agar pelayanan tetap berjalan,” tegasnya.
Dampaknya, pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah kembali stabil. Bahkan pendapatan RSD dr. Soebandi Jember di awal masa kepemimpinannya tercatat mencapai Rp31 miliar, sehingga operasional, pembayaran tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat dapat kembali berjalan normal.
Selain sektor kesehatan, Gus Fawait juga melakukan pentingnya pembenahan infrastruktur jalan dan pertanian, agar Jember kembali kompetitif.
“Saya dipilih rakyat, maka pelayanan publik adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Perlahan kita benahi, dari kesehatan, pendidikan, pertanian hingga administrasi kependudukan,” pungkasnya.














