Ada sesuatu yang tidak beres dalam industri tembakau Indonesia.Ia besar, tetapi tidak adil.
Ia tumbuh, tetapi tidak merata.Ia menghasilkan kekayaan, tetapi tidak mengangkat kesejahteraan petani yang menanamnya.
Selama puluhan tahun, ada jarak yang terlalu lebar antara pabrik dan ladang. Antara mereka yang memproduksi rokok dan mereka yang menanam tembakau. Jarak itu bukan sekadar geografis, tetapi struktural bahkan ideologis. Industri berjalan di atas, sementara petani tertinggal di bawah.
Petani hanya menjadi objek
Ia hadir dalam rantai produksi, tetapi tidak pernah menjadi penentu. Ia menanam, merawat, dan memanen, tetapi tidak pernah memiliki kendali atas harga. Tembakaunya dibeli murah, sering kali dengan standar yang tidak transparan, sementara produk akhirnya rokok dijual kembali dengan harga yang semakin tinggi, bahkan kepada mereka sendiri.
Di sinilah ironi itu terjadi
Yang menanam tetap miskin. Yang mengolah menjadi kaya.
Dan ironi itu tidak berhenti pada angka-angka ekonomi. Ia menjelma menjadi kenyataan sosial yang panjang. Madura, salah satu daerah dengan luas tanam tembakau terbesar di Indonesia, justru selama bertahun-tahun berada di garis bawah dalam statistik kesejahteraan di Jawa.
Bagaimana mungkin tanah yang menghasilkan bahan baku industri yang kaya menghasilkan kemiskinan?
Ini bukan pertanyaan akademik bagi saya. Ini personal. Sebab saya tumbuh dan berkembang bersama tembakau. Dalam percakapan petani, dalam musim panen yang penuh harap, dalam wajah-wajah yang tetap bekerja keras meski hasilnya tidak pernah pasti.
Saya melihat, merasakan, dan memahami satu hal:
bahwa masalahnya bukan pada petani.
Masalahnya ada pada sistem.
Sistem yang menempatkan petani hanya sebagai pemasok bahan baku, bukan sebagai bagian dari kekuatan industri. Sistem yang membiarkan nilai tambah mengalir ke atas, sementara mereka yang berada di bawah hanya menerima remah-remah.
Dan sistem seperti ini tidak bisa dibiarkan terus berjalan
Ia harus dibalik. Petani tidak boleh lagi menjadi objek. Ia harus menjadi subjek. Ia harus menjadi bagian paling penting dalam rantai industri, bahkan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Ini bukan idealisme. Ini keharusan
Selama puluhan tahun, petani tembakau seperti dihisap oleh sistem yang tidak adil. Mereka menjual tembakau dengan harga rendah, tetapi membeli kembali produk rokok dengan harga tinggi. Dalam satu siklus produksi yang sama, mereka selalu berada di posisi yang dirugikan.
Saya tidak bisa menerima itu. Harus ada perubahan yang mendasar. Perubahan yang tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi menyentuh struktur. Dan perubahan itu, bagi saya, hanya mungkin dilakukan dengan satu cara:
membangun industri dari bawah.
Bukan hanya memperbesar yang sudah ada, tetapi menciptakan yang baru. Bukan hanya bergantung pada pabrik besar, tetapi melahirkan ribuan pabrik rokok skala UMKM di berbagai daerah penghasil tembakau.
Di situlah titik baliknya.
Ketika pabrik-pabrik kecil tumbuh di dekat ladang, relasi antara industri dan petani akan berubah. Petani tidak lagi jauh dari pusat produksi. Mereka tidak lagi berhadapan dengan pasar yang abstrak. Mereka menjadi bagian langsung dari ekosistem.
Tembakau mereka bisa dibeli dengan harga yang lebih layak—bahkan lebih tinggi—karena rantai distribusi menjadi lebih pendek, lebih dekat, dan lebih adil. Dan di saat yang sama, produk yang dihasilkan tidak harus mahal. Inilah yang sering disalah pahami.
Selama ini, kita menerima seolah-olah harga rokok yang tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Padahal sebagian besar konsumen rokok di Indonesia adalah kelompok menengah ke bawah buruh, petani, pekerja informal. Mereka membeli rokok bukan sebagai gaya hidup mewah, tetapi sebagai bagian dari keseharian.
Ketika harga rokok legal rata-rata menyentuh Rp20 ribu, jarak antara produk dan konsumen menjadi semakin lebar. Di titik ini, pasar tidak lagi rasional. Ia menjadi tertekan.
Dan dari tekanan itu, muncul sesuatu yang tidak bisa dihindari: rokok ilegal.
Sebagian melihatnya sebagai pelanggaran. Sebagian lain melihatnya sebagai perlawanan. Tetapi bagi saya, itu adalah gejala dari sistem yang tidak seimbang.
Ketika produk legal tidak terjangkau, maka pasar akan mencari jalan sendiri. Tapi saya tidak ingin menormalkan itu. Solusinya bukan membiarkan ilegalitas tumbuh. Solusinya adalah menghadirkan alternatif yang legal, tetapi adil dan terjangkau.
Di sinilah gagasan tentang ribuan pabrik rokok UMKM menjadi sangat penting.
Pabrik-pabrik ini tidak hanya menjadi unit produksi, tetapi juga menjadi alat koreksi terhadap ketimpangan. Mereka membeli tembakau dengan harga yang lebih baik, karena mereka dekat dengan petani. Mereka memproduksi rokok dengan kualitas yang baik, karena mereka memahami bahan bakunya. Dan mereka menjual dengan harga yang lebih terjangkau, karena struktur biaya mereka lebih efisien.
Ini bukan utopia.Ini adalah model yang bisa dibangun, dan saya sudah memulainya. Saya percaya, jika ini dilakukan secara masif jika ribuan pabrik UMKM benar-benar tumbuh di berbagai daerah maka lanskap industri tembakau Indonesia akan berubah secara fundamental.
Petani tidak lagi menjadi pihak yang paling lemah.
Ia menjadi bagian dari kekuatan. Industri tidak lagi terpusat. Ia tersebar dan hidup di banyak titik.Dan pasar tidak lagi timpang. Ia menjadi lebih adil dan terjangkau. Di titik itu, kita tidak hanya berbicara tentang ekonomi. Kita berbicara tentang keadilan.
Tentang bagaimana sebuah industri yang selama ini menghasilkan kekayaan besar bisa kembali kepada mereka yang menjadi fondasinya.
Tentang bagaimana negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator bagi lahirnya struktur ekonomi yang lebih merata. Dan tentang bagaimana generasi kita tidak hanya mewarisi sistem, tetapi berani mengubahnya.Saya melihat ini sebagai panggilan. Bukan sekadar proyek bisnis. Bukan sekadar gagasan ekonomi.
Tetapi sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan yang telah lama hilang.
Maka saya bertekad.
Saya akan memperjuangkan lahirnya ribuan pabrik rokok UMKM yang legal, yang kuat, dan yang berpihak. Saya akan menempatkan petani sebagai subjek utama bukan sebagai pelengkap. Saya akan mendorong agar tembakau mereka dihargai dengan layak, dan produk yang dihasilkan bisa kembali kepada mereka dengan harga yang terjangkau.
Karena pada akhirnya, sebuah industri tidak boleh hanya dinilai dari seberapa besar ia menghasilkan keuntungan, tetapi dari seberapa adil ia membagikan manfaatnya.
Dan jika industri tembakau Indonesia ingin benar-benar berdiri sebagai industri yang mandiri,
maka ia harus dimulai dari sini, dari ladang, dari petani, dan dari keberanian untuk membangun ulang sistem yang lebih adil.














