Berita

Marak Penyelundupan Hewan Produktif di Pesisir Nagekeo, Kerbau dan Kuda Betina Diselundupkan ke Sulawesi

1686
×

Marak Penyelundupan Hewan Produktif di Pesisir Nagekeo, Kerbau dan Kuda Betina Diselundupkan ke Sulawesi

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi

NAGEKEO, LENSANUSANTARA.CO.ID – Penyelundupan hewan produktif kian marak terjadi di wilayah pesisir utara Kabupaten Nagekeo. Sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi aktivitas ilegal tersebut antara lain Pesisir Anakoli, Pesisir Maradaka di Desa Tonggurambang, hingga Watu Ndoang di Desa Nggolonio. Hewan yang paling sering diselundupkan ke luar daerah, seperti ke Jeneponto, Sulawesi Selatan, adalah kerbau dan kuda betina yang masih tergolong produktif.

Modus yang digunakan diduga memanfaatkan kapal pengangkut balok kelapa asal Selayar yang bertujuan ke Nangadero, Kecamatan Aesesa. Kapal-kapal tersebut awalnya datang membawa muatan balok kelapa untuk dibongkar di lokasi tujuan. Setelah proses bongkar muat selesai di gudang penyimpanan, kapal kemudian mencari lokasi yang dianggap aman untuk memuat hewan secara ilegal.

Example 300x600

Informasi yang diperoleh menyebutkan, aktivitas ini diduga tidak hanya dilakukan oleh awak kapal, melainkan juga melibatkan oknum pengusaha nakal di wilayah Nagekeo yang memberikan arahan serta mengatur proses pengiriman hewan ke luar daerah secara gelap.

BACA JUGA :
Sambut Tahun Baru 2026, PD Aisyiyah Nagekeo Gelar Tanam Pohon di Masjid Agung Baiturrahman Mbay

Seperti kejadian baru-baru ini, seorang nelayan asal Desa Marapokot merekam aktivitas mencurigakan di perairan sekitar Watu Ndoang. Dalam video tersebut, terlihat dua kapal pengangkut balok kelapa keluar dari muara dengan muatan penuh kerbau betina. Rekaman tersebut kini menjadi sorotan masyarakat karena diduga kuat berkaitan dengan praktik penyelundupan.

BACA JUGA :
AKP Serfolus Tegu Ajukan Banding, Keputusan Majelis Dinilai Tak Mencerminkan Keadilan Etik

Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa aktivitas ilegal ini umumnya dilakukan pada malam hari untuk menghindari pengawasan. Proses pemuatan hewan ke kapal biasanya berlangsung antara pukul 00.00 hingga 04.00 dini hari.

“Biasanya mereka memuat hewan pada malam hari, sekitar jam 12 malam sampai jam 4 pagi. Waktu tersebut dipilih karena situasi sepi dan minim pengawasan. Kerbau-kerbau itu dinaikkan ke kapal di lokasi yang jauh dari permukiman warga,” ujar narasumber tersebut. 6/4/26.

BACA JUGA :
Kuda Pacu "Mama Muda" Milik Daeng Cici Masuk Final Piala Pordasi NTT 2025

Maraknya praktik ini dikhawatirkan dapat berdampak pada penurunan populasi ternak di Kabupaten Nagekeo serta merugikan peternak lokal dan daerah. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Nagekeo bersama Aparat Penegak Hukum (APH) diminta untuk memperketat pengawasan di wilayah pelabuhan, gudang penyimpanan, serta titik-titik pesisir yang diduga menjadi jalur penyelundupan.

Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir juga diharapkan dapat berperan aktif dengan melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan aktivitas mencurigakan. Upaya pengawasan yang ketat diharapkan dapat menekan praktik penyelundupan hewan produktif yang semakin meresahkan ini.

error: Content is protected !!