Pemerintahan

‎Petani Singkong di Banjarnegara Mengeluh, Per Kilo Dihargai Hanya 650 Perak

1131
×

‎Petani Singkong di Banjarnegara Mengeluh, Per Kilo Dihargai Hanya 650 Perak

Sebarkan artikel ini
Petani sedang menata singkong setelah diangkut menggunakan motor dari kebunnya, Jumat, 29/8/2025. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).




‎Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Petani beberapa Desa di Kabupaten Banjarnegara menjerit, akibat harga singkong atau biasa di sebut ubi kayu turun drastis, karena perkilonya hanya dihargai 650 rupiah. Sehingga dianggap sangat memberatkan, terutama saat memasuki musim tanam yang selama ini membutuhkan waktu sekitar 9 bulan.

‎Menurut salah satu petani, Parman mengaku dampak turunnya harga singkong yang saat ini melanda di Banjarnegara, dirinya tidak mengetahui penyebabnya.

‎”Tidak tahu faktor apa sehingga harga singkong bisa turun secara drastis seperti ini, dan sudah terjadi beberapa bulan harga segitu, makanya tidak sesuai dengan pengeluaran yang para petani singkong keluarkan, meskipun penurunan atau kenaikan sudah biasa terjadi, tapi kalau seperti ini terus kan petani yang bingung,” ungkap Udin, petani asal Desa Karanganyar, Jumat, (29/8/2025).

‎Keluhan sama juga diungkapkan Sarkun, turunnya harga singkong saat ini dianggap paling parah, dengan harga 650 rupiah per kilonya, dianggap tidak sebanding dengan perawatan yang selama ini dilakukan.

‎”Sangat parah memang waktu ini, karena hanya 650 rupiah, biaya perawatannya saja sudah terlihat, mulai dari nanam hingga panen itu tidak sedikit, karena melibatkan banyak pekerja, kan tentu kita harus upah mereka, belum biaya angkutannya, kalau kita jual kupasan, tentu mengeluarkan duit lagi, sedangkan harga anjlok seperti ini, padahal daerah sini seperti Pucung Bedug, Parakan, Kaliajir, Karanganyar, itu semua hampir nanam singkong,” ungkap Sarkun.

‎Sarkun berharap, dengan turunnya harga singkong, Pemerintah Daerah bisa mengambil langkah untuk membantu menstabilkan, sehingga petani montang manting dalam menutup biaya produksi yang semakin tinggi.

‎”Saya ingin Pemerintah Daerah bisa membantu para petani singkong dan mengambil langkah, karena kalau dibiarkan seperti ini, tentu para petani singkong bisa gulung tikar, sembilan bulan merawat singkong itu tidak mudah, harus menggunakan pupuk Organik juga pupuk pabrikan, dan itupun untuk pupuk seperti Urea, kami harus melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kalau tidak gitu tidak dapat, makanya saya bilang tidak mudah merawat tanaman singkong, kalau gagal singkong akan bogel (kecil-kecil),” tambah Sarkun.

‎Padahal dalam penelusuran lensanusantara.co.id ke beberapa pasar tradisional seperti Mandiraja, Purwaraja Klampok dan pasar kota, harga mencapai Rp 4000 hingga Rp 5000 rupiah per kilonya, perbandingan yang sangat jauh sekali.

‎Semoga Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait, bisa secepatnya mengambil tindakan, agar para petani singkong di Kabupaten Banjarnegara, bisa merasakan kesejahteraan dan setimpal dengan biaya serta keringat yang dikeluarkan. (Gunawan).

BACA JUGA :
Jelang Idul Fitri 1445 H, Pj Bupati Banjarnegara Sidak Harga Sembako di Pasar dan Toko Modern