Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Semangat literasi dan kesadaran kemanusiaan membara di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD) “Mercusuar” Unej sukses menggelar acara Bedah Buku 2025 dengan tema inspiratif “The Ocean of Memory: Membangun Kesadaran dan Kemanusiaan Mahasiswa Melalui Literasi”. Kegiatan yang menjadi bagian dari Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) ini berfokus pada bedah novel Leila S. Chudori, “Namaku Alam”.
Acara yang dilaksanakan pada Minggu, 16 November 2025, di Gedung 1 FKIP Unej ini menghadirkan sosok inspiratif di bidang literasi, Mohammad Hairul, M.Pd., seorang Instruktur dan Fasilitator Nasional Literasi Baca-Tulis. Dengan pengalamannya, Hairul menyampaikan materi yang membuka mata mahasiswa baru tentang peran sastra sebagai alat refleksi bangsa.
Inti materi yang disajikan adalah mengenai novel “Namaku Alam” sebagai “Sejarah Tandingan” yang tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi menghidupkan suasana psikis dan sosial pasca-Tragedi 1965. Hairul menjelaskan bahwa sastra menjalankan fungsi New Historicism, di mana teks menjadi ruang untuk merekonstruksi memori bangsa dan menyuarakan kebenaran sejarah yang selama ini tersembunyi.
Narasumber juga memaparkan bagaimana sastra menjadi bentuk resistensi terhadap kekuasaan yang menindas kebenaran. Melalui kutipan-kutipan mengenai diskriminasi keluarga tahanan politik dan kekerasan negara, Hairul mengajak mahasiswa untuk berempati terhadap korban ketidakadilan, mengingat bahwa “Sastra Tak Pernah Lahir dari Kekosongan Budaya”
Puncak pesan inspiratifnya adalah dorongan bagi mahasiswa baru untuk menjadi generasi ideal. Hairul menjabarkan empat pilar kesadaran yang harus dimiliki mahasiswa: Kesadaran Sejarah (menolak narasi tunggal), Kesadaran Sosial (empati pada korban), Kesadaran Intelektual (berpikir kritis), dan Kesadaran Moral (berani memperjuangkan kebenaran).
Ia dengan tegas menyerukan peran sentral mahasiswa: “Melalui sastra, mahasiswa didorong untuk menjadi Penjaga Kebenaran dan Hati Nurani Bangsa”. Pesan utamanya adalah, “Menjadi Generasi Penyembuh Luka Bangsa” dengan keberanian moral dan tindakan kemanusiaan, termasuk melalui kegiatan menulis.
Alifia Jihan Riestomo Putri, Ketua Panitia acara, menegaskan bahwa tema bedah buku ini dipilih untuk membangun karakter mahasiswa baru yang utuh.
“Kami mengusung tema ini agar mahasiswa baru tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan pikiran kritis terhadap sejarah. Sastra seperti ‘Namaku Alam’ adalah alat yang kuat untuk mengasah Empati terhadap Korban Ketidakadilan,” ujarnya, merangkum harapan agar mahasiswa menjadi “Generasi Penyembuh Luka Bangsa”.
Acara bedah buku yang ini telah berhasil menanamkan benih pemikiran kritis dan empati bagi seluruh peserta Orientasi Mahasiswa Baru PGSD Unej, menjadi langkah awal bagi mereka untuk tidak hanya sekadar belajar mengajar, tetapi juga mengemban peran sebagai agen perubahan dan penjaga moralitas bangsa.








