Oleh : Mohammad Hairul, M.Pd.
(Ketua IGI Kabupaten Bondowoso)
Bondowoso, https://lensanusantara.co.id – Saya lebih sreg menggunakan istilah regenerasi daripada istilah reformasi. Terlebih jika terkait dengan perombakan pengurus sebuah organisasi. Saya juga lebih sreg dengan istilah perombakan dari pada sekadar istilah pergantian pengurus. Terserah apa tafsir siapapun terhadap istilah itu, dan apa motif saya menggunakannya. Yang pasti, itu adalah wujud penegasan bahwa saya bukanlah orang yang asal dalam memilih, termasuk dalam memilih kata. Saya selalu mempertimbangkan makna yang menyertainya.
Demikian juga saya lebih senang menyebut sebagai sahabat kepada orang tertentu. Salah satunya Sahabat Daris Wibisono Setiawan, misalnya. Predikat sahabat yang saya gunakan kepadanya mungkin oleh sebagian orang dianggap sepadan dengan istilan teman, kawan, atau bahkan rekan. Kiranya siapapun yang terbiasa melibatkan perasaan dalam memaknai sesuatu akan mengatakan bahwa sahabat itu lebih dari sekadar teman, lebih dari sekadar kawan, apalagi dari sekadar rekan.
Saat akan ada proses perombakan pengurus di tubuh sebuah organisasi, saya terbiasa menyarankan dan memberikan dukungan jika ada diantara sahabat saya yang mumpuni dan punya kapasitas-kapabilitas. Maka dalam kontestasi perombakan pengurus di tubuh PGRI Bondowoso, saya termasuk yang ikut senang dan mendukung Sahabat Daris Wibisono Setiawan untuk berkontestasi. Soalnya di masa yang lalu, kami sama-sama berproses di kampus Universitas Jember, bergerak bersama di PMII, dan saling menyemangati bahwa ia yang aktif berorganisasi tak boleh hanya menjadi pemimpi, tetapi harus menjadi pemimpin.
Jika kita mengenal Sosok Arjuna dan Karna dalam dunia pewayangan, atau dalam Epik Mahabarata, maka keduanya adalah saudara satu ibu dari seorang perempuan bernama Kunti. Demikian juga saya dan Sahabat Daris Wibisono. Kami adalah sama sebagai guru penggerak di bawah binaan Dirjen GTK Kemdikbud. Hanya saja saya berada di kubu yang berbeda dengan sahabat saya itu. Kami memilih aktif di Organisasi Profesi Guru yang berbeda. Anggap saja jika saya ada di Kubu Pandawa, maka sahabat saya ada di Kubu Kurawa. Saya di IGI dan Sahabat Daris Wibisono di PGRI. Hubungan keduanya bukan kompetisi, melainkan sinergi.
Analogi Pandawa dan Kurawa, tak perlu dimaknai sebagai protagonis dan antagonis. Itu murni hanya sebagai simbol-perlambang untuk sesuatu yang berbeda. Toh nyatanya Arjuna dan Karna sebagai pihak yang ‘berlawanan’ tidak canggung-canggung untuk saling memuji kelebihan masing-masing. Mereka sama-sama mahir memanah, namun bukankah memanah itu adalah seni yang bisa dikuasai dengan ragam cara?
Sahabat Daris Wibisono Setiawan adalah sosok praktisi sekaligus konseptor. Sebagai Guru ia adalah sosok yang terus haus untuk belajar dan berupaya meningkatkan kompetensi dan kualifikasinya. Posisinya sebagai kandidat doktor adalah bukti nyata penilaian saya ini. Sebagai kepala sekolah ia sudah berkali-kali menginspirasi secara nasional dengan terobosan-terobosan ‘gila’ dalam mengelola SMK NU.
Jika Perombakan Pengurus di tubuh PGRI dimaksudkan sebagai sarana regenerasi, maka Sahabat Daris Wibisono perlu diberi kesempatan untuk memimpin. Ia saya kenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap para juniornya. Jika ia berkesempatan memimpin, maka saya optimis ia akan sangat memperhatikan kebutuhan guru di Bondowoso. Jaringannya yang cukup luas di tingkat provinsi bahkan Nasional adalah modal yang akan memudahkannya dalam melayani guru di Bondowoso.
Jangan larang saya untuk tidak mengagumi sahabat Daris Wibisono, karena saya punya motto hidup; mengagumi siapapun yang mampu mengungkapkan perasaan dan pemikiran melalui tulisan. Sahabat Daris adalah sosok yang sangat produktif dalam melahirkan karya-karya yang bergizi tinggi. Bagaimana saya tidak terpukau akan semua itu?! Kecuali jika kandidat satunya lagi juga menemui saya. Salam sharing and growing together.








