Daerah

Warga Desa Hilisimaetano, Hidup Dalam Garis Kemiskin

40
×

Warga Desa Hilisimaetano, Hidup Dalam Garis Kemiskin

Sebarkan artikel ini

Nias selatan, Lensanusantara.net – AKARHATI BUULOLO, hidup dalam kemiskinan tetapi tidak pernah tersentuh program bantuan untuk warga miskin dari pemerintah. Rabu 26/08/2020.

Example 300x600

Upaya Pemerintah kabupaten (Pemkab) Nias Selatan untuk mengentaskan kemiskinan nampaknya belum cukup merata dirasakan masyarakat. Buktinya, masih ada warga miskin yang sehari-hari hidup miskin, tetapi sama sekali tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Cita-cita pemerintah pusat untuk mensejahterakan rakyat miskin, masih jauh dari harapan karena kurang tepatnya penerima bantuan sehingga bantuan yang dikuncurkan justru tidak menyentuh rakyat miskin.

Salah satu warga miskin Desa HILISIMAETANO KECAMATAN LAHUSA KABUPATEN NIAS SELATAN tersebut bernama Akarhati buulolo (24), warga Dusun II, Desa HILISIMAETANO, Kecamatan Lahusa.

Banyak program untuk keluarga miskin dengan kucuran uang yang tidak sedikit dikampanyekan pemerintah. Dari pusat hingga daerah, para pejabat berkampanye bahwa mereke serius menangangi kemiskinan. Sayangnya, Akar hati buulolo tidak masuk dalam daftar orang miskin yang layak dibantu.

Akarhati buulolo pun sama sekali tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah penerima manfaat Program Keluarga harapan (PKH), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bantuan langsung atau bantuan nontunai, maupun bantuan lainnya.

Meskipun program pemerintah yang mengatasnamakan kemiskinan sering digembar-gemborkan, namun keberadaan Akarhati Buulolo dan istriNya seolah-olah tidak diakui oleh pemerintah.

Nama Akarhati Buulolo dan istriNya tidak pernah masuk dalam daftar warga yang mendapat bantuan apa pun. Nama mereka tidak pernah masuk Program Keluarga Harapan (PKH). Apalagi, program bedah rumah yang sudah bertahun-tahun dilakukan pemerintah. Padahal, secara fisik rumah Akarhati Buulolo sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Ironisnya, warga di sekitar lingkungan tempat tinggalnya yang ekonominya lebih mapan justru malah mendapat bantuan dari pemerintah. Kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding Akarhati Buulolo, tetapi mereka yang justru mendapatkan bantuan lewat PKH.

Karena hidup di bawah garis kemiskinan dan “melata sendiri” –tanpa bantuan pemerintah, hampir setiap hari Akarhati Buulolo dan IstriNya hanya bisa makan nasi dan Garam saja. Makanan sehari-hari mereka sangat jauh dari standar gizi.

Saat lensanusantara.net berkunjung ke rumahnya, Akarhati Buulolo (24) hanya tinggal bersama IstriNya bernama SUSI YANI LASE yang berusia (20) tahun. Bahkan IstriNya, sudah tidak bisa bekerja lagi akibat penyakit gondon di leherNya yang diderita sejak 3 tahun lalu.

Akarhati Buulolo dan istriNya, tinggal di rumah yang hanya berukuran 6×6 meter. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan: dinding rumah yang terbuat dari batu batu yang tidak layak dipakai.

Bagian atapnya tenda. Jika turun hujan rumah yang tidak layak itu selalu bocor sehingga bagian dalam rumahnya menjadi kebanjiran. Itu karena tenda rumahnya sudah banyak yang bolong.

Akarhati Buulolo menempati rumah di atas tanah seluas 6×6 meter. Namun tanah yang ditempatinya bukanlah miliknya. Akarhati buulolo hanya menumpang. Tanah itu milik orang tuanNya.

Akarhati Buulolo dan istriNya yang sudah tidak punyak pekerjaan. Mereka harus menanggung kemiskinan tanpa bantuan pemerintah.

Akarhati Buulolo mengatakan, sebelumnya ia dan istriNya tinggal di daerah desa Mogae. ia memiliki dua orang anak laki-laki berusia dua tahun. Akarhati Buulolo dan IstriNya tinggal di Dusun III desa Mogae, Kecamatan Lahusa. Namun, tanah yang ditempatinya, bukanlah miliknya melainkan punya orang tua.

“Saya hanya numpang. sama orang tua saya, Di sini saya hanya tinggal bersama istri dan kedua anak saya. “Ucap Akar hati Buulolo kepada lensanusantara.net

Lensanusantara.net Rabu 26/08/2020.

Akarhati Buulolo menceritakan, sejak 24 tahun ia tinggal hingga sampai sekarang ini, belum pernah sekalipun ia mendapat bantuan dari pemerintah. Seperti bantuan PKH, bedah rumah, bantuan langsung atau nontunai, maupun bantuan lainnya.

“Selama puluhan tahun hingga sekarang ini selama saya tinggal bersama istri dan anak saya di sini, belum pernah saya dapat bantuan dari pemerintah dalam bentuk apa pun,”ungkapnya.

Agak aneh memang. Sebab, kepala dusun II sudah sering mendaftarkan namanya agar terdata dan mendapat bantuan dari pemerintah. Namun, namanya tetap saja tidak tercantum sebagai keluarga prasejahtera dan berhak menerima bantuan dari pemerintah.

“Kalau bapak kepala dusun II sudah sering mengusulkan agar memasukkan nama saya supaya dapat bantuan, tapi tetap saja tidak pernah terdata. Terkadang kalau saya lihat mereka yang ekonominya lebih mapan dari saya dapat bantuan dari pemerintah seperti uang tunai, beras, telur dan lainnya saya hanya bisa mengelus dada saja,”tuturnya.

Bagian dalam rumah Akarhati Buulolo: berdinding batu batak yang tidak layak dipakai, dan selalu banjir jika hujan turun.

“Yang membuat saya sedih, kalau saya sakit ditambah lagi istri saya juga sakit. Berobat kalau ada uang. Terkadang untuk makan saja susah,” tuturnya,

Sembari mengelus dadanya.

Akarhati Buulolo menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan dari memasang perangkap ikan yang ia pasang di saluran sungai, Pekerjaannya ini, sudah sejak lama ia tekuni demi untuk menyambung hidupnya.

“Kerjaan sehari-hari hanya masang perangkap ikan di sungai, penghasilan yang saya dapat dalam sehari Rp 50 ribu hingga Rp 65 ribu. Tapi itu juga tidak bisa dipastikan. Terkadang sama sekali tidak dapat. Ikan hasil tangkapan, saya jual ke pasar HELEZALULU,”ujarnya.

Menurutnya, penghasilannya tersebut sebenarnya jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhannya bersama istriNya tercinta. Terlebih lagi, ia harus harus mengurus kedua anakNya.

Dalam kondisi hidup yang penuh keterbatasan, berbagai cara Akarhati Buulolo lakukan untuk mengatur keuangan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akarhati Buulolo juga selalu mengutamakan hal-hal terpenting untuk istri dan anakNya. Misalnya membeli beras, memasak, menyuci, dan kebutuhan lain istri dan anak.

Dindig rumah Akarhati Buulolo sudah banyak yang rusak.
Untuk mengisi waktu luang, Akarhati Buulolo hanya bisa memperbaiki alat perangkap ikan miliknya yang rusak akibat sudah lapuk dimakan usia dan rusak karena tersangkut sampah di sungai. Ia mengaku tidak bisa mencari pekerjaan lain. Apa lagi harus pergi jauh karena harus merawat istri dan anakNya.

“Sehari-hari yang saya lakukan, pagi jam 06.00 WIB berangkat ke sungai untuk memasang perangkap ikan. Sekitar jam 10.00 WIB pulang, menyiapkan makan dan kebutuhan lain buat kedua anak. Siangnya jam 13.00 WIB, baru berangkat ke sungai lagi sampai sore sekitar pukul 17.00 WIB sembari jual ikan ke pasar HELEZALULU”terangnya.

Akar hati pun berharap, agar pemerintah lebih bijaksana lagi dalam menurunkan bantuan, sehingga bantuan yang disalurkan itu diterima oleh orang yang memang benar-benar sangat membutuhkan.

“Ya kalau dibilang miris ya mirislah bang. Tapi mau gimana lagi? Saya berharap, pemerintah mulai dari pusat hingga ke desa tidak pilih kasih dalam mendata warga tidak mampu dan memberikan bantuan,”UcapNya”

Akarhati Buulolo mengaku, selama puluhan tahun tinggal di Nias Selatan, baru pertama kali ia mendapat bantuan berupa sembako dan BLT (BANTUAN LANSUNG TUNAI) dari pemerintah desa hilisimaetano kecamatan lahusa kabupaten Nias Selatan.

“saya bersyukur kemarin saya dapat bantuan sembako dari pemerintah desa dan saya senang sekali bang dapat berkah rezeki bantuan itu.”ucapNya”

Liput: Delvan sitetarutaru

Tinggalkan Balasan