Sumenep, Lensa Nusantara – Untuk terus melangsungkan hidup, manusia berjuang mencari mata pencaharian dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui berbisnis atau berdagang, perdagangan menjadi interaksi jual beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, keberadaan pasar menjadi salah satu tempat kegiatan masyarakat untuk transaksi jual beli barang dan jasa.
Keberadaan pasar traditional di Desa Gayam Kecamatan Gayam Kabupaten Sumenep sangat penting untuk di bicarakan, mengingat pasar Gayam adalah pasar yang sudah lama berdirinya, menjadi tempat para pedagang dari segala penjuru di Pulau Sapudi, dan menjadi Pasar tradisional paling besar diantra pasar-pasar tradisional yang ada di Pulau Sepudi, sebagai fungsi pasar yaitu tempat transaksi antara penjual dengan pembeli dapat menjadi indikator kesejahteraan ekonomi masyarakat, semakin tinggi transaksi jual beli di pasar menunjukkan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat cukup baik.
Gempuran yang luar biasa dari pasar modern terhadap eksistensi Pasar Gayam, banyak pedagang di pasar Gayam mengeluh dengan pendapatan penjualan yang terus menurun tajam. eksistensinya sekarang semakin menurun dan terancam punah, keadaan ini menyebabkan terjadinya kekawatiran dari banyak kalangan, khususnya dari para pedagang yang ada dipasar Gayam, dalam hal ini perlu adanya sikap tegas dari pihak Pemerintah Desa Gayam dalam menjalankan amanat Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep No. 5 Tahun 2013 tentang Perlindungan, Pemberdayaan Pasar Tradisional dan Penataan pasar Modern.
Untuk mengetahui apa penyebabnya , banyak para pemerhati pasar gayam mengatakan bahwa adanya pasar online dan juga adanya pasar raksasa yang dalam hal ini dapat dikatakan sebagai super market dekat dengan pasar gayam adalah menjadi alasan tertentu penyebab adanya kemorosotan eksistensi pasar gayam, namun anehnya teradapat kalangan bahwa kemorostan tersebut dianggap sebuah mitos yang harus diterima apa adanya.
Disisi yang lain keluhan-keluhan para pedagang cukup logis ketika melihat menurunnya pendapatannya dijabarkan dengan keberadaan toko besar didekat pasar.
Hasil dari pengamatan, bagi pedagang di pasar tradisional Gayam yang pasokannya berasal dari industri/pabrikan, merasakan adanya penurunan pengunjung dan pendapatannya menurun, sedangkan pedagang yang hanya menjual produk barang mentah atau pertanian, seperti pedagang sayuran, jagung, nasi bungkus, buah-buahan tidak separah seperti pedagang produk-produk industri.
Penelitian Awan Santoso di Yogyakarta, menunjukkan penurunan omset penjualan yang dialami pedagang pasar tradisional yang menjual produk pabrikan sebesar 34%, yang menjual produk pabrikan dan desa 18%, yang menjual produk impor 3%, yang menjual produk desa 45%. AC Nelson sebesar 31% pertumbuhannya pasar modern, pasar tradisional tumbuh secara negatif sebesar 8%. Hasil penelitian tersebut secara global dapat dikatakan keberadaan pasar modern telah mengancam keberadaan pasar tradisional. (Ags Wd)








