Bondowoso, https://lensanusantara.co.id – Sudah enam bulan lebih pandemi covid-19 melanda Indonesia . Sekitar enam bulan pula sekolah ditutup dan penghentian pembelajaran tatap muka. Sebagian besar sekolah sudah berupaya melaksanakan PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh. Demikian juga kampus yang sedang bersiap menyambut tahun akademik baru 2020/2021.
Dalam enam bulan berlalu banyak hal sudah terjadi, termasuk di dunia pendidikan. Peniadaan UNBK akhirnya dimajukan 1 tahun dari semula rencana penghentian di tahun 2021. Tahun pelajaran baru 2020/2021 tetap seperti biasanya yakni pertengahan juli 2020 kemarin. Penyesuaian beban kurikulum dengan penyederhanaan materi ajar juga sudah dilakukan. Hal itu adalah wujud adaptif terhadap masa pandemi covid-19.
“Yang utama sekolah harus adaptif dengan kondisi yang ada, dan mencarikan cara belajar yang paling efektif dan bisa menjangkau semua”. Demikian ungkap Mohammad Hairul, M.Pd, Guru SMP Negeri 1 Bondowoso sekaligus ketua IGI Bondowoso dalam acara Bedah Buku KI Hajar Dewantara yang diadakan oleh HMPS Mercusuar, Prodi PGSD, FKIP, Universitas Jember.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa walaupun era sekarang sudah marak internet, namun nyatanya masih banyak kendala yang belum memungkinkan pembelajaran jarak jauh dengan virtual murni. Pada kondisi demikian, para guru-pendidik diharapkan kembali pada esensi pedagogik, bahwa ia harus memahami betul karakteristik peserta didiknya. Jika belum memungkinkan dengan android bisa dicarikan alternatif yang lebih bisa menjangkau semua.
“Seperti yang dilakukan di SMPN 1 Klabang, Bondowoso. Mereka menggunkan Radio FM dalam pelaksanaan PJJ. Di sekolah lain saya juga mendapati penggunaan kembali HT atau Handy Talkie sebagai sarana PJJ. Yang utama dari pembelajaran jarak jauh adalah ketersampaian, kepraktisan, dan kemampuan untul menjangkau semua”.
Jika sarana serba memungkinkan, baik kesiapan guru maupun siswa, bisa dioptimalkan sekalian pemanfaatan studio multimedia pembelajaran berbasis digital. “Bisa digunakan beberapa media sekaligus untuk memaksimalkan PJJ. Mungkin Bisa dicoba penerapan konvergensi media”. Ia mencontohkan di SMPN 1 Bondowoso. Ada sesi pembelajaran virtual-interaktif menggunakan zoom cloud meeting, ada sesi pengayaan materi melalui video pembelajaran di youtube channel sekolah, ditambah penugasan menggunakan google classroom, dan beberapa peranti teknologi lainnya”.
Mengakhiri sesi wawancara, Hairul menyampaikan kesan dari membedah pemikiran Ki Hajar Dewantara. “Yang menarik dari acara bedah buku kemarin adalah bahwa di tahun 1920-an sudah ada pemikiran tentang Merdeka Belajar. Ki Hajar menjadi teladan langsung tentang bagaimana sikap merdeka itu. Demikian pula tentang teori konvergensitas yang relevansinya sangat kita rasakan saat ini. Kita pun tak dapat pungkiri bahwa benar-nyata-adanya pendapat Ki Hajar Dewantara bahwa setiap rumah menjadi sekolah, terlebih di masa pandemi covid-19 ini”, Pungkas Hairul.
- Reporter : Frayudi/Hosairi
- Editor : Arik Kurniawan
- Pubikasi : Yadi/Rahman








