BeritaDaerah

Unik!!.. Mantan Kades Mathius Deta Raya Memiliki 12 Istri dan 52 Anak Serta 218 Cucu

95
×

Unik!!.. Mantan Kades Mathius Deta Raya Memiliki 12 Istri dan 52 Anak Serta 218 Cucu

Sebarkan artikel ini

SBB, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kodi Balaghar,kamis 26 November 2020 .Terinspirasi dari seorang mantan kepala Desa Waiha kecamatan Kodi Balaghar kabupaten Sumba Barat Daya -NTT .

Example 300x600

Mantan seorang kepala Desa Waiha yang menjabat selama 38 tahun sebagai kepala Desa Waiha di Era soeharto masa kepresidenan yakni mantan kades waiha bapak Mathius Deta Raya

ketika awak media ini mewawancarai beliu dari berbagai aspek kehidupan sosial yang boleh bilang memeliki pengalaman banyak diberbagai kehidupan masyarakat

Dan mampu menghadapi dengan lapang dada sesuai dengan era jamannya ,Beliu mengungkapkan bahwa jadi seorang pemimpin tidak gampang apalagi memimpin masyarakat yang beraneka ragam macam karakter sosial yang berbeda-beda

Dan bahkan saya awali dari memimpin 12 Orang istri saya serta anak dan cucu begitu banyak ,saya awali dengan keimanan yang teguh dan pendirian yang teguh,sehingga mampu menjalani rumah tangga yang harmonis selama 78 tahun saya hidup,

Tentu pun ujian kehidupan selalu datang bertubi-tubi tapi saya syukur pada Tuhan yang maha Esa karena saya diberikan istri yang belasan dan anak Puluhan serta cucu ratusan itulah nilai syukur pada Tuhan

Dan sampai saat ini anak-anak ku cucuku tidak sampai mengecewakan saya yang walaupun ada beberapa khilafiah atau ketidak samaan dari saya anak-anak dalam hal perbedaan idiologi pemikiran

Tapi itulah kehidupan yang saya alami ungkapnya .selanjutnya saya enjoy saja ,Namun saya tidak mencalon kepala Desa lagi karena faktor usia sehingga anak-anak saya tidak mengijinkan saya maju dalam medan inspirasi calon kepala Desa ,

Namun jika ada Anak-Anak saya menggantikan ya ,itulah takdir juga seperti Anak saya Danial Ana Ote yang menjabat sebagai kepala Desa Loko Tali sekarang sambil lirik putra nya dengan Bahasa isyarat dalam penuh hikmah,

Beliu juga memberikan beberapa gagasan idiologi dalam menangani kasus dalam masyarakat baik kasus Diskriminasi sosial dengan tindakan Anarkis ,masalah perbatasan tanah,kekerasan anak dan perempuan ,kasus perang tanding antara suku

karena beberapa hal itu sebenarnya pola tingkat kesadaran individual saja yang kurang sadar dalam melawan hawa nafsu sehingga selalu mendiskreditkan satu sama lain ,

Begitu juga dalam pola pembangunan budaya ternak,budaya adat,budaya kawin mawin,ini semua adalah suatu elemen masyarakat yang selalu ada ditengah-tengah masyarakat

Disetiap suku adat yang ada di indonesia hanya bagaimana menjadi pemimpin yang adil,jujur,konsekwensi pada tugas yang ebankan oleh masyarakat dan Negara kita selalu dijaga agar jangan sampai ada indikasi-indikasi pengelompokan bahasa-bahasa persatuan dalam NKRI

Sehingga kehidupan sosial bangsa indonesia di mata dunia di hargai Bangsa lain ,contoh misalkan jangan ada mendiskriminasikan antara kepercayaan satu sama lain ,jangan sampai bahasa independen dengan Bahasa-bahasa intoleransi itu semua adalah pola kurangnya flesibelity dalam hal berpikir,

Saya selama 38 Tahun masyarakat tetap aman dan tertitip sama halnya dalam saya memimpin anak-anak dan cucu saya dalam kehidupan sehari-hari saya selalu mengajarkan toleransi kepada siapa saja dan menghargai orang lain baik dalam ucapan,tata krama sebagai orang kodi asli dan orang sumba Asli pada umumnya ,

Adapun pesan saya pada pemerintahan era ini pada adik Nelis sebagai Bupati saya sangat setujuh dengan polimik pemerintahan yang fleksibel dan akuntabel yang lebih mengutamakan pada pembangunan infrastuktur dan pembangunan di bidang 7 jabatan emas sebagai bahasa cita-cita dalam bahasa falsafah pak Bupati Kornelis Kodi mete

,saya juga mengungkapkan lewat media ini agar kita lebih konsen dalam bidang pertanian,penerangan,peternakan yang sehingga mengembalikan Sumba yang sejahterah dan makmur kedepan ungkap bapak mantan kades waiha Mathius Deta Raya

Beliu juga menambahkan bahwa kita harus mengkarburasikan sikap ke pimpinan kita baik diera-era jaman saya jaman sekarang memang sama Dalam pandangan saya ,

Namun beberapa perbedaan dalam inovasi desa yang serba teknologi jaman sekarang memang itulah perubahan sosial yang jaman selalu berubah-ubah Tandasnya (Gus Mone AL Mughni)

Tinggalkan Balasan