Daerah  

Ukiran Sejarah Prestasi SMA Wailangira Dalam Menjadi Pioneer Sekolah Riset Sumba Barat Daya

SBD, LENSANUSANTARA.CO.ID – Matahari bersinar cerah di ufuk timur. Menyinari punggung SMA Wailangira yang memang berposisi membelakangi matahari terbit. Hari ini sedemikian cerah, secerah wajah tiga siswa yang baru saja dianugrahi penghargaan Juara Harapan III Lomba Karya Ilmiah SIRIUS 2022. Jumat 5 Agustus 2022

Lomba SIRIUS ini bukan main-main. Lomba ini adalah ajang perlombaan karya ilmiah tingkat Jawa dan Bali dengan peserta dari 150 sekolah. Dari banyaknya kategori karya di SIRIUS, ditentukan sebanyak 6 juara, yaitu Juara 1, 2, 3 dan harapan 1, 2, 3 serta penghargaan khusus yang diberikan oleh sponsor dari manca negara antara lain Malaysia, Jepang dan Taiwan.

Masing masing juara mendapatkan sertifikat, piala penghargaan serta uang pembinaan. Juara 1 mendapatkan sebanyak 5 juta rupiah, Juara 2 mendapatkan 3 juta rupiah, Juara 3 mendapatkan 1 juta rupiah, sedangkan untuk juara harapan 1 mendapat 700 ribu, juara harapan 2 mendapat 500 ribu dan juara harapan 3 mendapatkan 300 ribu rupiah.

BACA JUGA :  Berulang Kali Perbaikan Tanggul, Warga Sukaraja Tetap Resah

Ketiga siswa yang menjadi pengharum nama SMA Wailangira adalah Robertus Ramone, Novita Kaka, dan Anita Tamo Ina yang merupakan siswa kelas 3. Mereka merupakan salah satu dari 2 tim di SMA Wailangira yang lolos seleksi internal oleh tim pembina Ngelab Kampus, dengan antusiasme yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar.

Pembinaan intensif dilakukan selama 3 hari dari pagi hingga malam bersama mahasiswa dengan rekor prestasi Nasional maupun Internasional dari Universitas Brawijaya yang tergabung dengan Ngelab Kampus.

“Banyak dari mereka yang masih belum menguasai riset, tapi semangat belajar dan inisiatif tinggi dari siswa membuat mereka bisa mengejar ketertinggalan dalam belajar mengenai karya ilmiah sehingga bisa meraih juara harapan 3” Ungkap Kirana Aisyah Larashati, selaku CEO dari Ngelab Kampus.

BACA JUGA :  DPC Partai Demokrat Probolinggo Bagikan Sembako Kepada Warga Terdampak Covid 19

Topik riset yang dibawakan oleh Robert dan kawan kawan merupakan analisis sejarah dan budaya sumba yang kurang diketahui secara luas oleh masyarakat, bahwasanya, terdapat banyak sekali budaya di Sumba baik dari upacara adat, bahasa, maupun kemiripan simbol simbol yang digunakan pada makam leluhur. Contohnya, simbol yang banyak digunakan sebagai souvenir di Desa Adat Ratenggaro merupakan simbol yang banyak digunakan di makam wali songo.

“Pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit, Pulau Sumba, termasuk Kodi tentunya, termasuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Bahkan disebut-sebut, Patih Gadjah Mada bersama pasukannya pernah mengunjungi wilayah Pulau Sumba, termasuk wilayah Kodi. Adanya pohon-pohon Maja di Kodi, dikisahkan berasal dari luar dan dibawa oleh Gadjah Mada.” Ungkap Nita.

BACA JUGA :  Penilaian Kinerja Pegawai di Desa Empat Balai Dalam Situasi Pandemi Covid-19

Kemenangan mereka merupakan kali pertama SMA Wailangira mengukir sejarah dalam perlombaan karya ilmiah. Mulai detik kemenangan ini, segala komitmen, usaha, dan segenap doa dilantunkan untuk menggapai mimpi menjadikan SMA Wailangira sebagai pioneer sekolah literasi dan riset yang menjadi rujukan sekolah-sekolah lain di Sumba Barat Daya.

Dalam acara ini yang turut di undangan dalam penyerahan Piagam Bateman desa juga turut menyemangati yakni Yosef Rangga Lendu Dalam acara ini Yos lendu memberikan panasiat-nasiat untuk siswa. kepsek SMA Wailangira Petrus Wungo,S.Pd juga mengucapkan terima kasih banyak dari Tim Lembaga Riset Kampus (Gus Mone AL Mughni)