Opini

Kasih Ibu yang Tak Pernah Sirna, Meski Telah Tiada

980
×

Kasih Ibu yang Tak Pernah Sirna, Meski Telah Tiada

Sebarkan artikel ini
Herman

Natuna, LENSANUSANTARA.CO.ID – Siang yang cerah menyelimuti Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (9/11/2025). Sekitar pukul 13.30 WIB, aroma kopi yang baru diseduh menyeruak dari sebuah warung sederhana di tepi jalan. Di sanalah saya berhenti sejenak, melepas lelah sambil menyesap hangatnya secangkir kopi.

Tak lama kemudian, seorang ibu menghampiri meja saya. Dengan senyum ramah, ia meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul.
“Silakan, Nak,” ucapnya lembut.

Example 300x600

Kalimat sederhana itu tiba-tiba membuat dada saya sesak. Ada sesuatu dalam tatapan matanya — lembut, tulus, dan penuh kasih — yang seolah menghidupkan kembali bayangan seseorang yang telah lama pergi: ibu saya. Sosok yang telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun lalu.

Kopi dan Kenangan yang Kembali Mengalir

Ingatan itu datang tanpa diminta. Dahulu, setiap kali saya pulang dari bekerja, ibu selalu menyiapkan kopi panas di meja ruang tamu.
“Minum dulu, Nak, biar badan segar,” katanya sambil tersenyum — senyum yang selalu mampu menenangkan hati yang lelah.

Kini, meski kopi yang saya reguk masih sama — pahit, panas, dan harum — rasanya berbeda. Tak ada lagi tangan hangat yang menyajikannya. Tak ada lagi suara lembut yang mengingatkan agar jangan lupa makan, jangan lupa salat.

Saya memandangi cangkir itu lama, seolah di dasar gelas ada pantulan wajah ibu — wajah yang dulu begitu sabar menasihati, begitu tulus mendoakan anak-anaknya. Rindu yang selama ini disembunyikan perlahan menyeruak di tengah kepulan asap kopi.

Perempuan Tangguh dari Lingga

Ingatan membawa saya kembali ke kampung halaman — Desa Musai, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Di sanalah ibu menapaki hidupnya dengan kesederhanaan. Seorang perempuan tangguh yang tak pernah mengenal kata menyerah. Apa pun pekerjaan ia lakukan demi membantu ayah menyekolahkan kami.

Setiap kali saya pulang, ibu selalu menyambut dengan pelukan hangat. Tak perlu banyak kata, cukup dengan senyum dan segelas kopi. Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Bahkan laut yang dulu sering kami lintasi terasa lebih sunyi, seakan turut menyimpan kisah kasih antara seorang ibu dan anaknya.

Pesan yang Tak Pernah Pudar

Saya masih ingat pesan terakhir ibu sebelum kepergiannya:

“Jangan lupa salat, Nak. Dan jangan pernah lupa pulang, walau hanya lewat doa.”

Kata-kata itu selalu terngiang, menjadi penguat setiap kali saya merasa lelah atau jauh dari rumah. Doa ibu, meski kini hanya bisa saya kenang, tetap menjadi cahaya yang menuntun langkah di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Sore itu, di antara kepulan asap kopi yang perlahan menipis, saya menunduk dan berbisik pelan:

“Terima kasih, Ibu… untuk segalanya. Semoga Allah menempatkan Ibu di tempat terbaik, di sisi-Nya.”

Air mata menetes, jatuh di tepi cangkir yang mulai dingin.

Cinta yang Melintasi Waktu

Benarlah, kasih ibu tak pernah sirna, bahkan setelah ia tiada. Ia hidup dalam setiap ingatan, dalam setiap langkah, dan dalam setiap doa anak yang merindukannya.

Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya:

“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembali mu…”
(QS. Luqman: 14)

Kasih ibu adalah cinta yang tak berhenti di dunia. Ia melintasi waktu, ruang, dan kehidupan — abadi dalam setiap degup rindu.

Rindu di Ujung Samudra Natuna

Sore mulai merambat di langit Kepulauan Natuna. Angin laut berhembus lembut membawa aroma asin yang menenangkan. Ombak berdebur pelan di kejauhan, seolah mengalunkan nada rindu yang tak pernah usai. Di ufuk barat, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat jingga yang memantul di permukaan laut.

Dalam keheningan itu, saya kembali menatap cangkir kopi yang hampir kosong. Di antara riuh angin dan debur ombak, hati saya berbisik, rindu ini tak akan pernah habis, sebagaimana kasih ibu yang tak pernah sirna, meski telah tiada.

Natuna memang memiliki pesona tersendiri — lautan yang luas, angin yang berdesir lembut, dan masyarakat yang hangat. Di sinilah, saya menyadari: rindu kepada ibu tak pernah hilang, hanya berubah bentuk — menjadi doa yang terus mengalir, seperti ombak yang tak pernah berhenti mencium pantai Natuna.