Pendidikan

Kombel: Bukan Sekadar Ganti Casing, Tapi Mesin Transformasi Menuju Pembelajaran Mendalam

1300
×

Kombel: Bukan Sekadar Ganti Casing, Tapi Mesin Transformasi Menuju Pembelajaran Mendalam

Sebarkan artikel ini
Mohammad Hairul saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Kombel (Komunitas Belajar)

Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pada Kamis dan Jumat (20-21 November 2025), Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso mengadakan workshop bertajuk “Penguatan Komunitas Belajar dalam Penerapan Pembelajaran Mendalam.” Acara ini menegaskan kembali bahwa praktik pedagogis yang transformatif memerlukan ekosistem yang mendukung, dan inilah peran sentral dari Komunitas Belajar (Kombel).

Merespons urgensi tersebut, kami (Tim Lensa Nusantara) berkesempatan mewawancarai Mohammad Hairul, S.Pd, M.Pd., Kepala SMPN 1 Curahdami yang juga merupakan seorang Fasilitator Pembelajaran Mendalam. Beliau bertindak sebagai narasumber pada workshop tersebut.

Example 300x600

Lensa Nusantara: Bapak Hairul, workshop di Dinas Pendidikan ini fokus pada penguatan Kombel untuk Pembelajaran Mendalam. Secara fundamental, apa peran Kombel dalam memastikan pembelajaran yang benar-benar ‘mendalam’ terjadi di kelas?

Mohammad Hairul: Kombel adalah jantungnya. Peran utamanya adalah sebagai laboratorium kolaborasi dan refleksi guru. Pembelajaran Mendalam menuntut guru untuk bergeser dari sekadar transfer pengetahuan ke penanaman pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, dan karakter. Hal ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

BACA JUGA :
Apresiasi Atas Kolaborasi Pengembangan Literasi-Numerasi antara SMPN 3 Satu Atap Maesan Bondowoso dengan Program Kampus Mengajar

Sebagai Kepala Sekolah sekaligus Fasilitator, saya melihat Kombel adalah tempat guru bertemu untuk mendiskusikan tantangan nyata di kelas, berbagi praktik baik, dan menganalisis hasil belajar peserta didik secara kolektif. Ini adalah ruang aman bagi guru untuk melakukan riset tindakan berbasis sekolah—mencoba pendekatan baru, gagal, dan bangkit lagi bersama-sama.

Lensa Nusantara: Berbicara tentang tantangan, ada kekhawatiran bahwa Kombel, yang dahulu mungkin bernama KKG atau MGMP, hanya berganti nama—sekadar ‘ganti casing’ tanpa perubahan substansi. Bagaimana kita memastikan Kombel benar-benar berfokus pada kualitas pedagogis, bukan sekadar administrasi?

Mohammad Hairul: Itu adalah pertanyaan krusial yang harus kita hadapi. Persis seperti yang telah disoroti, Kombel tidak boleh hanya menjadi wadah administratif untuk memenuhi tuntutan laporan. Kombel harus menjadi wadah profesional yang otentik.

BACA JUGA :
Implementasikan Deep Learning, SMKN 3 Sorong Perkuat Interaksi Edukatif yang Ful-Ful

Untuk menghindari jebakan ‘ganti casing,’ agenda Kombel harus berorientasi pada masalah nyata yang dihadapi guru saat implementasi Pembelajaran Mendalam. Fokusnya harus bergeser dari apa yang harus diajarkan (kurikulum) menjadi bagaimana peserta didik benar-benar belajar dan mengapa mereka kesulitan pada topik tertentu.

Lensa Nusantara: Mengaitkannya langsung dengan ‘Pembelajaran Mendalam,’ sejauh mana Kombel dapat menjadi katalisator bagi guru untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih transformatif dan relevan?

Mohammad Hairul: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) berakar pada gagasan bahwa peserta didik perlu membangun kompetensi yang dapat diterapkan di dunia nyata, seperti kewarganegaraan global, kolaborasi, dan kreativitas.

Lensa Nusantara: Terakhir, apa harapan Anda sebagai seorang Fasilitator Pembelajaran Mendalam di Kabupaten Bondowoso, melihat semangat yang ditunjukkan dalam workshop ini?

BACA JUGA :
Implementasikan Deep Learning, SMKN 3 Sorong Perkuat Interaksi Edukatif yang Ful-Ful

Mohammad Hairul: Harapan saya adalah momentum penguatan ini tidak hanya berhenti di workshop. Bondowoso dan seluruh daerah harus menjadikan Kombel sebagai investasi jangka panjang.
Dinas Pendidikan perlu memberi otonomi kepada Kombel untuk menentukan agenda mereka sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Sementara itu, para guru harus mengambil kepemilikan. Kombel yang sukses adalah Kombel yang digerakkan oleh kesadaran kolektif guru bahwa peningkatan kualitas pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Mari kita jadikan Kombel bukan sekadar ruang rapat, tetapi ruang tumbuh (growing space), tempat guru saling menyalakan obor inspirasi dan keahlian, demi masa depan peserta didik yang mampu menguasai pembelajaran mendalam. Kombel adalah mesinnya, dan kita semua adalah bahan bakarnya.