Lumajang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Yayasan Allena Humanity Project kembali menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk para penyintas erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu, 19 November 2025. Bantuan yang diberikan meliputi sembako, pakaian layak pakai, serta perlengkapan bayi.
Bantuan tersebut disalurkan ke salah satu titik pengungsian di Posko 2 SMPN 2 Pronojiwo, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Penyaluran ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur luar negeri seperti Toko Indo Allena Taiwan, Mbok Cikrak, dan Suara BMI Taiwan yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial bagi pekerja migran Indonesia. Di Indonesia, Media Lensa Nusantara ditunjuk sebagai pendamping resmi seluruh kegiatan Yayasan Allena.
Pemilik Yayasan, Ce Allena menyampaikan bahwa aksi ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak.
“Ini adalah wujud kepedulian kami kepada pengungsi Semeru, dimana mereka hanya sempat membawa pakaian mereka tanpa membawa harta benda lain karena bencana ini,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa donasi berasal dari para donatur tetap yayasan, dan penyaluran akan terus dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Bantuan berupa sembako, pakaian dll ini berasal dari para donatur tetap kami, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa hari ke depan kita akan terus menyalurkan bantuan lagi,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Koordinator Posko 2, Soni, mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak para penyintas bukan hanya makanan, tetapi juga perlengkapan dasar untuk bertahan di lokasi pengungsian.
“Yang kami butuhkan dari penyintas, itu yang dibutuhkan pertama adalah matras. Matras untuk tempat tidur, selimut. Terus kemudian pakaian. Dan pakaian dalam, baik perempuan maupun anak-anak,” ujar Soni.
Ia menyampaikan bahwa jumlah pengungsi terus meningkat dari hari ke hari. Berdasarkan data terbaru, 240 orang bermalam di posko, dan lebih dari 200 orang tambahan tiba pada hari yang sama.
“Kami juga butuh tenda, mungkin tenda Bruton atau yang lain. Karena ada kemungkinan bakalan terus bertambah,” jelasnya. Sabtu, (22/11)
Menurut Soni, sebagian warga mengungsi karena rumah mereka rusak, sementara lainnya memilih mengungsi karena khawatir terhadap potensi letusan susulan dan aliran lahar dingin di sekitar pemukiman dekat sungai.
Posko SMPN 2 Pronojiwo sendiri pernah menjadi lokasi pengungsian utama pada erupsi Semeru beberapa tahun lalu. Soni menambahkan bahwa fasilitas posko saat ini jauh lebih memadai.
“Untuk kamar mandi kita sudah lumayan banyak, ada 14. Tandon air kita punya lumayan banyak, sanyo juga ada tiga. Minimal untuk kebutuhan MCK yang pertama itu sudah terselesaikan,” pungkasnya.














