Budaya

‎Ritual Adat Sadran Gede Jelang Ramadan, Ribuan Warga Gumelem Banjarnegara Berebut Degan Ijo

921
×

‎Ritual Adat Sadran Gede Jelang Ramadan, Ribuan Warga Gumelem Banjarnegara Berebut Degan Ijo

Sebarkan artikel ini
Masyarakat berebut degan ijo dalam Sadran Gede Gumelem yang dianggap siapapun yang meminumnya mendapatkan keberkahan, Senin, 16/2/2026. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).



‎Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, suasana meriah dan khidmat mewarnai Desa Gumelem Kulon dan Wetan, Kecamatan Susukan,  Kabupaten Banjarnegara. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti ritual adat Sadran Gede, yang diadakan setiap tahun menjelang bulan Ramadhan.

‎Sadran gede tersebut adalah tradisi turun-temurun yang sarat akan nilai sejarah dan spiritual, acara yang dihadiri Plt Sekretaris Daerah Banjarnegara, Kepala Dinas Pariwisata dan Jajarannya serta para tokoh masyarakat, Kepala dua Kepala Desa Gumelem kulon dan wetan, serta para sesepuh tersebut tidak hanya dianggap sekedar ziarah kubur semata, tetapi juga merupakan upaya masyarakat untuk merawat ikatan batin dengan leluhur sekaligus menyucikan diri sebelum memasuki bulan puasa.

‎”Tujuan utama kegiatan ini agar masyarakat Desa Gumelem dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, baik lahir maupun batin, harapannya, kita semua siap melaksanakan ibadah puasa dan rangkaian ibadah lainnya dengan khusyuk,” ujar Kepala Desa Gumelem Kulon, Arif Mahbub, Senin, (16/2/2026).

‎Dalam tradisi Sadran gede desa Gumelem, sebelum acara dimulai, dibuka dengan sebuah ritual Ngunduh Berkah Degan Klapa Ijo (memetik berkah kelapa muda hijau) yang ada di halaman Paseban.

‎Ritual tersebut dilaksanakan dengan merujuk pada sebuah kisah sejarah Wahyu Gagak Mprit, karena warga meyakini, kelapa muda hijau tersebut merupakan simbol wahyu yang dahulu diperebutkan oleh Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan di era kerajaan Mataram.

BACA JUGA :
Kecewa Pelayanan PDAM Banjarnegara yang Buruk, Massa Aksi Beri Hadiah Pocong Lengkap dengan Bunga Setaman

‎Meskipun menurut sejarah kisah tersebut berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Mataram, namun warga Gumelem selama ini memaknainya sebagai sebuah simbol permohonan berkah kepada yang Kuasa.

‎”Warga meminum air kelapa hijau ini sebagai bentuk tafaulan wa tabarrukan atau mengharap keberkahan, kita semua berharap siapapun yang meminumnya mendapatkan berkah dari Allah SWT,” tambah Kades Gumelem kulon Arief yang juga salah satu tokoh agama terkenal di Banjarnegara.

‎Dalam pelaksanaan Sadran Gede tahun 2026 langsung mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, karena selama ini makam Ki Ageng Gumelem tersebut juga dikenal sebagai salah satu situs cagar budaya era Mataram paling besar.

‎Plt Sekretaris Daerah Banjarnegara, Tursiman, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk memfasilitasi pelestarian tradisi ini, halnitu disampaikan setelah mengikuti Sadran Gede, yang menurutnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

‎”Desa Gumelem ini paket lengkap, tidak hanya budaya dan tradisinya yang kuat, tetapi juga didukung oleh kerajinan khas dan potensi lainnya, ini sangat menarik bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung kekayaan budaya asli Banjarnegara,” ujar Tursiman.

‎Beda dengan sebelumnya, pada Sadran Gede tahun ini, acara ditutup dengan sebuah tradisi Pisowanan, Uyon-uyon, atraksi seni Ujungan, dan pertunjukan Kuda Lumping hingga sore hari. (Gunawan).

Example 300x600