Natuna, LENSANUSANTARA.CO.ID – Di beranda paling utara Indonesia, gema shalawat memantul dari laut ke daratan. Di Natuna, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah disambut bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan peristiwa batin yang menggerakkan ruang-ruang ibadah hingga meluap.
Sejak malam pertama tarawih, masjid-masjid di berbagai penjuru kecamatan dipenuhi jamaah. Saf-saf salat merapat hingga ke teras, bahkan meluber ke halaman. Di beberapa titik, pengurus masjid menambah tikar dan pengeras suara agar jamaah yang tak tertampung di dalam tetap bisa mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk.
Fenomena ini bukan hanya soal angka kehadiran. Ramadhan tahun ini datang dengan suasana yang lebih hangat. Anak-anak, remaja masjid antusias sholat berjamaah dan membaca Al-Qur’an, sementara para orang tua berbincang ringan menunggu waktu berbuka.
“Setiap Ramadhan selalu ramai, tapi tahun ini terasa lebih penuh,” ujar salah seorang jamaah masjid di Bunguran Barat, Natuna. Ia menyebut, peningkatan jumlah jamaah terlihat sejak salat Isya hingga tadarus malam. “Bahkan ada yang datang lebih awal agar kebagian tempat di dalam.”
Ramadhan di Natuna juga bergerak di luar ruang ibadah. Pasar-pasar tradisional ramai oleh warga yang berburu kebutuhan sahur dan berbuka. Pedagang kue, es buah, dan lauk-pauk bermunculan di tepi jalan. Aktivitas ekonomi kecil menggeliat, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan puasa.
Di beberapa masjid besar, panitia Ramadhan telah menyusun agenda rutin: kuliah subuh, buka puasa bersama, santunan anak yatim, hingga berbagi takjil. Tradisi berbagi menjadi denyut lain yang tak terpisahkan dari suasana spiritual.
Bagi warga Natuna, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum merajut kembali kebersamaan di tengah kehidupan kepulauan yang terpencar oleh jarak dan laut. Masjid menjadi titik temu—tempat rindu, doa, dan harapan bertaut.
Di ujung negeri ini, Ramadhan 1447 Hijriah datang membawa cahaya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Natuna menyambutnya dengan penuh—penuh saf, penuh doa, dan penuh harap.(Herman)














