Blitar, LENSANUSANTARA.CO.ID – Upaya memperkuat identitas daerah berbasis ruang publik dan warisan budaya menjadi fokus utama Bupati Blitar, Rijanto, saat meninjau enam titik strategis di Kabupaten Blitar, Selasa (24/2/2026). Kegiatan ini bukan sekadar survei rutin, melainkan langkah sinkronisasi tata ruang untuk menyatukan fungsi sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual dalam satu arah pembangunan yang terintegrasi.
Enam lokasi yang dikunjungi meliputi kawasan Makam Syech Subakir, pedestrian RTH Wlingi, Telaga Blumbanggedhe, Sanggar Pusaka Gong Kyai Pradah, eks Pasar Kanigoro, serta pedestrian area playground Alun-Alun Kanigoro.
Menurut Rijanto, peninjauan ini menjadi momentum untuk memastikan setiap ruang publik memiliki peran jelas dalam mendukung wajah Kabupaten Blitar ke depan.
“Setiap titik yang kita tinjau hari ini memiliki karakter dan potensi berbeda. Tugas kita adalah menyelaraskannya agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan,” ujarnya
Di kawasan Makam Syech Subakir, perhatian diarahkan pada peningkatan kualitas akses, penataan parkir, serta fasilitas pendukung bagi peziarah. Pemerintah daerah menilai kawasan religi tersebut dapat menjadi simpul pergerakan ekonomi masyarakat apabila ditata secara profesional tanpa menghilangkan nilai spiritualnya.
Sementara itu, di RTH Wlingi dan pedestrian Alun-Alun Kanigoro, evaluasi difokuskan pada kenyamanan jalur pejalan kaki, keamanan, serta estetika kawasan. Penataan ruang terbuka hijau dinilai penting sebagai wajah kota sekaligus ruang interaksi sosial warga.
Telaga Blumbanggedhe di Desa Soso turut menjadi perhatian karena dinilai memiliki potensi wisata alam berbasis lingkungan. Dengan penataan infrastruktur yang tepat, kawasan ini dapat berkembang sebagai destinasi alternatif yang mendukung ekonomi lokal tanpa merusak ekosistem.
Di Lodoyo, keberadaan Sanggar Pusaka Gong Kyai Pradah dipandang sebagai simbol kekayaan budaya Blitar. Rijanto menegaskan pentingnya menjaga keaslian nilai historis dan spiritual situs tersebut sembari meningkatkan kenyamanan pengunjung.
“Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada simbol. Kita harus hadirkan tata kelola yang baik agar warisan ini tetap hidup dan memberi manfaat,” tegasnya.
Sedangkan eks Pasar Kanigoro diproyeksikan menjadi kawasan strategis yang berpotensi direvitalisasi. Pemerintah daerah tengah mengkaji konsep pengembangan yang produktif dan berkelanjutan agar lahan tersebut kembali berfungsi optimal bagi masyarakat sekitar.
Hasil dari peninjauan ini, lanjut Rijanto, akan menjadi dasar penyusunan langkah teknis perangkat daerah. Ia menekankan bahwa pembangunan ke depan harus berbasis kebutuhan riil masyarakat serta memperkuat identitas Kabupaten Blitar sebagai daerah yang religius, berbudaya, dan ramah ruang publik.
Dengan pendekatan ini, Pemerintah Kabupaten Blitar tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merancang masa depan daerah melalui penataan ruang yang terintegrasi dan berdampak nyata bagi kualitas hidup warganya.(arif/ADV)














