Daerah

Kualitas MBG SDN Cilegong Dipertanyakan, LSM Barak Marcab Purwakarta Turut Mengawasi

915
×

Kualitas MBG SDN Cilegong Dipertanyakan, LSM Barak Marcab Purwakarta Turut Mengawasi

Sebarkan artikel ini
MBG SDN Cilegong

Purwakarta,LENSANUSANTARA.CO.ID – Menu Makan Gizi Gratis (MBG) di SDN Cilegong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi sorotan setelah salah satu orang tua siswa mengungkapkan kekecewaannya. E, orang tua siswa, mengatakan bahwa menu MBG sangat memperihatinkan dan tidak sesuai dengan harapan. “Masa bungkus makanan nya dibawa lagi oleh pihak MBG, padahal kan itu anggarannya sudah ada peruntukan nya,” ujarnya dengan nada kekecewaan, Kamis (05/03/2026).

Example 300x600

Banyak pertanyaan muncul tentang kualitas MBG yang disajikan. Apakah memang benar bahwa anggaran yang ada tidak digunakan secara optimal?

BACA JUGA :
Ketua PWRI Purwakarta Ajak Masyarakat Jaga Persatuan di Masa Tenang Pemilu

Mahesa Jenar, Ketua LSM Barak Marcab Purwakarta, turut mengangkat isu ini dan meminta klarifikasi dari pihak terkait. “Kami ingin tahu apa yang menyebabkan kualitas MBG di SDN Cilegong seperti ini. Kami akan terus memantau dan menuntut kejelasan,” tegasnya.

BACA JUGA :
Guru dan Sejumlah Siswa di Sumberwringin Bondowoso Diduga Keracunan MBG, Kepala Puskesmas Buka Suara

Mahesa Jenar juga menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengawasi dan memastikan bahwa anggaran MBG digunakan secara transparan dan akuntabel. “Kami tidak ingin ada penyimpangan dalam penggunaan anggaran MBG. Kami akan terus memantau dan menuntut tanggung jawab,” ujarnya.

Dalam pernyataan terpisah, Mahesa Jenar juga menyoroti silaturahmi Bupati dan pengelola MBG yang dinilai formalitas belaka. “Pengelola SPPG diduga masih prioritaskan profit di atas kualitas. Kami desak Pemerintah Daerah dan pengurus MBG untuk segera melakukan audit transparan terhadap seluruh titik SPPG,” tegasnya.

BACA JUGA :
GAPENSI Dukung Eep Supriadi Pimpin KADIN Purwakarta

Mahesa Jenar juga menekankan bahwa program MBG harus dijalankan dengan transparan dan akuntabel, serta memprioritaskan kualitas gizi siswa. “Setiap rupiah yang dikelola harus kembali dalam bentuk kualitas gizi yang prima, bukan menguap menjadi keuntungan pribadi pengelola,” pungkasnya. (Maman)