Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Jember terus mengoptimalkan akses layanan kesehatan untuk menekan angka stunting melalui pemantauan tumbuh kembang anak, serta pendampingan intensif kepada keluarga yang memiliki balita berisiko stunting.
Salah satu upaya tersebut dilakukan Puskesmas Pakusari dengan mendatangi langsung rumah keluarga Ahmad Ragil Juniarka (2), balita yang terindikasi stunting di Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Senin (13/7/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari akses layanan kesehatan untuk memastikan pemenuhan gizi lewat PMT dan susu. Agar anak mendapatkan pendampingan dan penanganan secara berkelanjutan.
Kepala Puskesmas Pakusari, dr. Dian Alfiyatul Uliyah, M.M., mengatakan saat ini terdapat sekitar 300 balita stunting di wilayah Kecamatan Pakusari. Namun, sebagian di antaranya telah menunjukkan perkembangan setelah mendapatkan penanganan, termasuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Susu dan pendampingan medis.
“Dari sekitar 300 anak tersebut, banyak yang sudah mendapatkan PMT sehingga jumlah yang masih memerlukan penanganan intensif saat ini sekitar 200-an anak. “Kami juga terus berkonsultasi dengan dokter spesialis anak sebagai pengampu,” ujarnya.
Menurut dr. Dian, Puskesmas Pakusari secara rutin membawa sekitar 10 balita setiap pekan untuk menjalani konsultasi dan pengobatan dengan dokter spesialis anak di rumah sakit.
“Apabila kondisi balita memungkinkan, dokter spesialis akan memberikan pelayanan di Puskesmas. Namun jika diperlukan pemeriksaan lanjutan, balita akan dirujuk ke Rumah Sakit Kalisat agar mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif,” terangnya.
Selama ini penanganan berjalan lancar. Kunjungan rumah terus kami lakukan. Jika balita bisa dibawa ke Puskesmas, dokter spesialis datang ke sini. Tetapi jika membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, kami rujuk ke Rumah Sakit Kalisat.
“Selain pemeriksaan medis, Puskesmas Pakusari juga memastikan pemenuhan kebutuhan gizi balita sesuai kondisi masing-masing. Bantuan berupa PMT maupun susu diberikan berdasarkan hasil penilaian status gizi dan kebutuhan anak,” katanya.
Untuk balita Ahmad Ragil Juniarka, dr. Dian menyebut kondisinya memang masih berada di bawah garis merah sehingga memerlukan pemantauan ketat.
“Namun, keluarga tersebut baru pindah ke Desa Sumberpinang sehingga pendampingan dari petugas kesehatan baru dapat dilakukan beberapa kali,” imbuhnya.
Untuk PMT dan susu kami penuhi. Pemeriksaan juga sudah kami lakukan. Saat ini usianya 2 tahun dengan berat badan 8,4 kilogram, sedangkan berat badan ideal pada usia tersebut sekitar 12 kilogram.
“Karena itu, kami terus melakukan pendampingan agar kondisi gizinya bisa segera membaik,” pungkasnya.














