Rembang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Cahaya kemilau lampion merah menyelimuti atmosfer Klenteng Cu An Kiong, Lasem. Di klenteng yang diyakini sebagai yang tertua di Tanah Jawa ini, masyarakat Tionghoa bersama jajaran pemerintah daerah berkumpul merayakan puncak malam Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dengan penuh kekhusyukan dan kemeriahan.
Hadir langsung dalam perayaan tersebut, Bupati Rembang, Harno, yang didaulat melakukan prosesi penyalaan lilin besar sebagai tanda simbolis dibukanya rangkaian perayaan Imlek di “Tiongkok Kecil” Lasem.
Prosesi penyalaan lilin oleh orang nomor satu di Rembang ini menjadi momen sentral yang sarat makna. Cahaya lilin yang berpendar di tengah keremangan malam melambangkan harapan baru, keberkahan, serta doa agar tahun 2026 membawa kemudahan bagi seluruh warga.
Dalam sambutannya, Bupati Harno menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat yang merayakan. Ia menekankan bahwa Imlek bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Rembang.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Rembang, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek 2026. Semoga tahun ini membawa keberkahan, kesehatan, dan kesuksesan bagi kita semua,” ujar Harno di hadapan para tokoh agama dan tamu undangan,
Bupati juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus Klenteng Cu An Kiong dan panitia penyelenggara atas ketertiban acara. Menurutnya, harmoni yang tercipta di Lasem adalah aset berharga yang harus dijaga demi kemajuan daerah.
“Terima kasih atas kebersamaan yang terus kita rawat. Keberagaman yang terpelihara dengan baik adalah kekuatan besar. Mari kita jaga persatuan ini demi Rembang yang lebih maju dan harmonis,” tandasnya.
Setelah prosesi formal dan sambutan, acara dilanjutkan dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Suasana semakin semarak dengan berbagai pertunjukan budaya khas Imlek yang memukau warga yang memadati halaman klenteng.
Warna merah yang mendominasi dan kepulan asap hio yang wangi menciptakan nuansa magis di Lasem, (putra)














