Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, membuat beberapa wilayah seperti Kecamatan Purwanegara dan Mandiraja saat ini sudah masuk dalam zona darurat kekeringan, sehingga banyak masyarakat yang saya ini kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci hingga mandi.
Dalam data statistik, Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja, paling parah terdampak kekeringan, sehingga menjadi perhatian dan prioritas utama dalam pendistribusian air bersih yang dilakukan Pemda Banjarnegara melalui Dinas Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain BPBD, parahnya kondisi kekeringan yang terjadi di Desa Jalatunda, membuat banyak kalangan ikut mememberikan bantuan kemanusiaan droping air bersih, dengan harapan masyarakat tidak kelabakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satunya datang dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwasaba. Dengan program kepedulian kekeringan, hari pertama melakukan droping air bersih ke Jalatunda, lebih dari 10 ribu liter air disalurkan langsung ke masyarakat.
“Ternyata dampak kekeringan tahun ini sangat luar biasa, sampai saya terenyuh saat masyarakat menunggu kami dengan antusias, mereka sudah membawa ember hingga galon hanya demi mendapatkan air bersih, saat ini kami menyalurkan air bersih di RT06, 08 RW 04, karena paling parah terdampak,” ungkap Pemilik SPPG Purwasaba Fatur Saliman kepada lensanusantara.co.id, Selasa, (4/8/2026).
Saliman juga menjelaskan, tidak hanya sekali dalam melakukan droping air, rencananya SPPG Purwasaba akan mendistribusikan ke masyarakat di Jalatunda selama musim kekeringan.
“Insya Allah, ini baru awal kita melakukan pendistribusian air bersih, dan setelah melihat realita seperti ini, kami akan siap untuk droping air kembali secara terus menerus selama masyarakat Jalatunda masih membutuhkan, jujur saja saya sangat kasihan sekali melihat kondisi masyarakat, ternyata air itu melebihi dari kebutuhan apapun, setetes air harganya ternyata melebihi emas jika melihat realitas seperti ini,”jelas Saliman.
Saliman juga menambahkan, pendistribusian air bersih yang di lakukan SPPG Purwasaba, bukan semata-mata untuk mencari nama ketenaran atau pencitraan, akan tetapi murni sosial untuk masyarakat.
“Fokus kami hanya membantu masyarakat, tidak ada maksut lainnya, bagi kami melihat masyarakat tersenyum bahagia dengan bantuan air bersih yang kami berikan itu sudah membuat kami dari SPPG Purwasaba juga ikut bahagia,” tambah Saliman.
Adanya pendistribusian air bersih dari SPPG Purwasaba ternyata membuat kebahagiaan masyarakat di Jalatunda, Darti salah satunya, dirinya berulang kali mengucapkan terimakasih, karena berkat bantuan tersebut, dirinya tidak bingung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami sebagai warga bahagia sekali mas, karena sudah diberikan air bersih ini, jadi kami tidak bingung lagi untuk keperluan seperti mandi, masak atau nyuci pakaian, karena selama ini kami hanya mengandalkan air dari sumber gunung, dan dengan bantuan air bersih ini, meringankan penderitaan kamu di musim kemarau saat ini,” ungkap Darti warga Dusun Kemandoran.
Hal sama juga disampaikan warga lainnya bernama Miskem, dirinya bersyukur banyak yang peduli dengan kekeringan yang melanda di Desa Jalatunda.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada SPPG Purwasaba, karena ikut memberikan air bersih kepada saya dan warga Dusun Kemandoran, karena air ini sangat berharga sekali bagi bagi kami saat ini, karena selama puluhan tahun ini daerah sini tidak ada air PAM, hanya mengandalkan air dari gunung, jika kering begini ya tidak ada pasokan air, akhirnya menunggu para orang-orang baik memberikan bantuan air bersih seperti ini,” jelas Miskem.
Belum masuknya aliran dari Perusahaan Air Minum milik Pemerintah Daerah Banjarnegara ke pelosok-pelosok Desa, terkadang menjadi salah satu kendala saat musim kemarau datang, sehingga warga di dusun Kemandoran berharap, agar ada perhatian khusus.
“Kami harap ada air PAM masuk sini, agar kami warga disini tidak bingung saat musim kekeringan datang setiap tahun, karena kalau terus menerus menunggu bantuan air bersih setiap musim kemarau, capek juga aslinya ngangkatin air pakai ember, soalnya tidak bisa sampai rumah saya,”pungkas Miskem. (Gunawan).














