Sekda Bondowoso : Terkait Pemindahan PKL Kita Harus Matang, Tidak Grusa – Grusu

  • Bagikan
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah SMSI-MURI-C-1.png

Bondowoso – Rencana pemindahan PKL alun alun Bondowoso menuai kontroversi karena sebagian besar dari pedagang menolak untuk dipindahkan ketempat yang baru, dikarnekan tempat yang saat ini mereka berjuaan dinilai lebih layak dengan tempat yang telah di bangun oleh pemerintah yaitu di jembatan ki ronggo atau Wisata Kuliner.

Maka dari itu, Syaifullah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bondowoso, mengaku tidak akan terburu-buru untuk memindahkan Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) di Alun-Alun Raden Bagus Asra Bondowoso ke tempat wisata kuliner jembatan Kironggo.

“Kita harus matang, tidak grusa-grusu. Ini menyangkut kepentingan orang banyak, dan menyangkut kepentingan ekonomi,” ungkapnya di Pendopo Bupati Bondowoso, Rabu (12/2/2020).

Diakuinya juga, bahwa Bupati telah memerintahkan dirinya, agar melakukan kajian tempat tersebut agar representatif. Artinya, harus teruji, strategis. Tentu hal itu harus duduk bersama. Katanya, jika kalau dipindah sembarangan, maka dikhawatirkan dagangan yang PKL jajakan tidak laku. Sehingga, akan menjadi masalah baru bagi Kabupaten Bondowoso.

BACA JUGA :  Pertahankan Eksistensi Kawasan, Perhutani KPH Bondowoso Bersinergi dengan Batalyon Raider 514 Tanam Pohon

Dikatakannya, Pemkab akan terus memikirkan agar final. Sehingga, semua bisa happy ending. “PKL bahagia, siap. Pemerintah juga siap,” Tambahnya.

Sementara untuk pemindahan kata dia, masih terus dikaji, termasuk lokasi yang akan ditempati PKL. Menurutnya, meski anggaran untuk revitalisasi Alun-Alun RBA Ki Ronggo sudah disepakati, namun tetap harus ada kajian. Karena masih terdapat sejumlah penolakan dari PKL.

“Kalau ada sosialisasi dari Dinas. Kemarin dengan Satpol PP dan Diskoperindag, silahkan. Karena ini pendekatan yang harus dilakukan. Tapi final kita serahkan penuh ke atasan. Ada bupati dan pak Wabup bagaimana keputusannya,” paparnya.

BACA JUGA :  Buku “Bukan Guru Kaleng-Kaleng” Dibedah di Momentum Hari Guru Nasional 2020

Pihaknya juga memastikan akan menggunakan pendekatan kearifan lokal. Tanpa menggunakan kekuatan tertentu. Karena mereka saudara-saudara kita, yang harus kita lindungi dan perhatikan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, PKL sendiri menolak untuk direlokasi ke Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo, karena mereka nilai los tidak memadai dan keamanannya tak menjamin. Seba PKL mengaku mendapat penolakan dari warga sekitar Jembatan Ki Ronggo.

Bahkan, lanjutnya, antara PKL, Satpol PP dan Diskoperindag duduk bersama, Senin (10/2/2020). Namun PKL menegaskan tidak akan pindah. Mereka dulu sempat pindah ke Jembatan Ki Ronggo, tapi kembali lagi ke Alun-Alun karena dianggapnya tak representatif.

BACA JUGA :  SPSI Bersama Halim - Kompetensi Dialog Pemenangan Pilkada.

Sementara Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) berencana memindahkan PKL Alun-Alun RBA Ki Ronggo ke Wisata Kuliner pertengahan Februari ini. Komitmen itu diungkapkan langsung oleh Kepala Diskoperindag, Sigit Purnomo.

Menurutnya, Pemkab sudah memenuhi perjanjian yang difasilitasi oleh Komnas HAM dengan beberapa pihak, terkait pemindahan PKL dari Alun-alun RBA Ki Ronggo ke Wisata Kuliner. Yakni berupa fasilitas yang memadai.

Menurutnya, proses pemindahan tetap, akan dimulai pada pertengahan bulan Februari. “Itu juga warga kita, yang juga mencari nafkah di situ, maka dari itu masih ada toleransi sampai dengan minggu kedua bulan Februari,” terangnya beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya juga, Pemerintah telah memberikan toleransi ke PKL, karena seharusnya mereka sudah pindah per 1 Januari lalu namun sampai saat ini masih belum ada yang pindah.

  • Reporter : Hosairi
  • Editor : Arik Kurniawan
  • Publikasi : Mistari



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan