Melalui Sarasehan Literasi, Pelajar di Bondowoso Diminta Produktif Berkarya

  • Bagikan
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah SMSI-MURI-C-1.png

Bondowoso – Acara bertajuk Sarasehan Literasi diadakan oleh pengurus cabang LTN NU Bondowoso. Menghadirkan para pegiat literasi dan aktivis OSIS dari berbagai sekolah di Bondowoso, acara digelar pada Sabtu, (14/3/2020). Bertempat di Gedung Sumber, Pondok Pesantren Islam Nurul Burhan, Badean Bondowoso.

Bertindak selaku pemantik diskusi adalah Instruktur Nasional Literasi Baca-Tulis, Mohammad Hairul, M.Pd. Pria yang produktif menulis dan berstatus sebagai guru di SMPN 1 Bondowoso itu terlihat gayeng berdiskusi dengan peserta. Acara juga menghadirkan perempuan penulis muda Bondowoso, Bintana Alin Hilwah. Ia baru menerbitkan buku berjudul “Saat Perempuan Memimpin”.

Andiono Putra selaku ketua PC LTN NU Bondowoso menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara Sarasehan Literasi. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja menyasar kaum muda atau pelajar secara umum dan pemuda NU khususnya. “Saya merasakan kegelisahan intelektual ketika melihat anak muda jaman now kurang produktif berkarya”, ungkap Andiono.

BACA JUGA :  Pemkab Pamekasan Fasilitasi Atlet Ikut Program WUB Antisipasi Masa Tua

Selaku pembicara pertama, Mohammad Hairul mengulas pentingnya rasa ingin tahu sebagai modal kegiatan literasi. “Berangkatlah ke sekolah dengan membawa sekian banyak tanda tanya di benak, dan pastikan tanda tanya tersebut sudah berguguran saat pulang sekolah”. Kemudian Hairul mengulas enam kemampuan literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, sains, digital, finansial, numerasi, literasi budaya dan kewargaan.

BACA JUGA :  Akibat Perkelahian Berdarah Hasil Diversi Hanya Dibantu Satu Juta, Ridwan Minta Bantuan IWO Barut

Bintana Alin Hilwah selaku pembicara kedua menyampaikan proses kreatif lahirnya buku berjudul “Saat Perempuan Memimpin”. Ia menekankan pentingnya merasa bebas saat menulis. bebas dalam mengungkapkan tema yang diinginkan dan bebas dari rasa takut salah. “Saat menulis ya menulis saja. Jangan jadi editor”, ungkapnya. Peserta saat itu juga langsung diberi kesempatan untuk mempraktikkan teknik menulis bebas atau free writing.

BACA JUGA :  Truk Na'as Pengangkut Pasir Nopol E 9136 MB Masuk Sungai di Desa Wonosari
  • Reporter : Yadi/Jasuli
  • Editor : Arik Kurniawan
  • Publikasi : Hosairi/Mistari
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan