Daerah

Pro dan Kontra Masalah Perhitungan Hilal Bulan Pemunggutan Nale

74
×

Pro dan Kontra Masalah Perhitungan Hilal Bulan Pemunggutan Nale

Sebarkan artikel ini


SBD, LENSANUSANTARA.CO.ID – kamis 24 febuari 2022 ketika media ini dalam acara peliputan pemungutan nale hingga pada Acara festival pasola terjadi pro dan kontrak menurut ke tua Bateman Desa Yosef Rangga Lendu mengatakan bahwa perhitungan tidak pas dalam perhitungan Hilal bulan perhitungan adatnya sebenarnya pasola bonda kawango jatu pada hari jumat tanggal 25 febuari 2022 dan pasola Rara winyo jatuh pada hari sabtu tertanggal 26 febuari 2022

Ini perhitungan yang benar bukan di majukkan ungkap Yos Lendu ,namun karena keputusan Ratu pandita Adat yang sudah terlanjur dalam musyawarah tersebut sehingga hasil kemufakatan tokoh adat jatuh pada hari kamis hari ini dan jumat esok hari kemungkinan karena cuaca tidak bersabat jadi salah lihat hilal gelap dalam perhitungan bulan Nale (Cacing Laut ) tandas yos Lendu.

Example 300x600

Yos Lendu pun menambahkan bahwa pasola berpertama dahulu kala di zaman RA.Mone (Sangaji Zena Mone & Pati Mone ) dalam cacatan kesultanan Bima Sumbawa dan Kerajaan Mojopahit pun RA Mone Bukan orang Asing akan tapi salah satu Sangaji yang terkenal dalam melawan furtugis dan Belanda ditahun 1500-1620 masehi menurut pakar sejarah Al marhum Cristanto Hadi Hugu yang pernah tinggal satu tahun di kesultanan bima,karna Zena Mone (RA Mone ) beraliran Marapu (Marfuah) dalam wawancara media ini semasa Hidup nya beliu 5 Tahun lalu dirumah kediaman beliu di desa Merekehe kecamatan kodi Bangedo kab.Sumba Barat Daya

Beberapa Narasumber saling mengklim asal-mula terjadi Pasola ada yang mengatakan seperti Agustinus Ambu Kaka adik dari sang pemilik Ndara Nale di kampung Tauhik beliu memberikkan stigmen bahwa asal mula pasola adalah dari Kampung adat tauhik dan Buku Bani

yakni Ratu Pokel dan mangi beliulah yang mendorong paman mereka yakni Ratu Tebo (Pengeran Tebo ) sehingga melakukan musyawarah kampung adat dari tujuh kampung adat besar yakni waindimu (kabisu mahemba)bertahta Pati Mone Dan RA Mone Bin Rangga Hangadi bin Dolla Ngundung dari sebrang lor Ramba Tokoh Lor (Sangaji Zena Mone), Rate Goroh (kabisu pawungo) yang bertahta oleh Ratu Dello serta diamanahkan pada ketua panitia yakni Ratu Umbu Dokko (kabisu Balaghar) sehingga dalam perhitungan ilmu Falaq mengetahui keberkahan dari panen Raya atau memburuk serta bertepan dalam acara pemilihan Nale tandasnya

Media juga telah mewawancarai Bapak Lere Muda merajuk pada stegmen sejarah pasola yang ucapkan oleh Yos Lendu bahwa bapak Lere Muda memang benar cuman beliu menambahkan bahwa Pati Mone Dan Ra Mone adalah kedua putra Dolla Ngundung yang mengawali pasola sehingga kelanjutkan kedua putra yang naik tahta dalam

meja perundingan di Lam mete untuk memimpin kodi mahemba (wilayah kec.Kodi Bangedo) sehingga memeliki kuda Halota,kuda Nale,Kuda waro mbibi dan begitu juga di balaghar hanya memeliki dua kuda yakni kuda Nale dan Kuda Halota sebagai kuda Nale begitu juga di kodi bawah singkatnya begitu.
terkait dengan beberapa Refrensi juga dalam media lain mengungkapan bahwa pasola ini munculnya karena permasalahan perebutan janda Cantik yang bernama Rabu Kabba dari kampung waiwuang istri Umbu Dulla yang mengajak Ngongo tau masusu dan bayang amahu dari ketika pemimpin dikampung waiwuang ini sedatang melaut kearah pantai Sumba Barat untuk mengambil padi konon kabar nya ketiga Pemimpin tidak kunjung-kunjung datang sehingga Teda (Teja) Gaiparona dari kampung Kodi melakukan niat untuk bawah lari Rabbu kabba ke kampung halaman

sehingga Umbu Dulla dan dua orang sahabatnya dan keluarga mereka tidak setujuh dengan langkah yang dilakukan oleh Teda gaikaparona maka mereka terjadi perundingan untuk memutuskan secara hukum adat bahwa harus kembalikkan semua mahar-mahar Umbu Dulla dengan diberikkan hukuman denda yakni membayar kuda,kerbau dan lain -lain sehingga terjadi hukuman talak (cerai) secara adat.

Namun Janda cantik Rabu kabba merasa bersedih dan tertipu dengan permasalahan tersebut sehingga untuk menghibur Si Janda tersebut maka diadakan pasola begitulah ungkapan media lain.

Sebagai kesimpulan dalam kajian sejarah tersebut maka media ini mengambil benang hijau bahwa pasola adalah suatu seni ketangkasan ,ketelitian,kegentelmenan,kesatrian serta kewibawaan begaimana menjadi insan yang saling maafkan kesalahan satu sama lain sehingga tidak boleh ada Rasa dendam dalam acara atraksi pasola tersebut sehingga menjadi hasil karya yang mengharukan antara suku kodi,suku Lamboya,suku wanu kaka sehingga hasil karya tersebut

menjadikan kita bekerja aman dalam segala bidang apakah bidang pertanian ,bidang kelautan,bidang hukum adat dan istiadat sehingga menjadi buah pikiran mengingat akan kematian semua makluk akan merasa kematian tersebut .

maka dengan selasai pasola tersebut pulang kerumah masing-masing mendoakan orang tua,kakek,tante,adik yang sudah mendahului mereka,dari sekian penjelasan tersebut pada dasar kodi,waijewa,wono kaka,lamboya adalah satu keturunan yang berasal dari satu pohon induknya yakni nenek moyang satu yang tidak terpisahkan itulah makna hakiki pasola tersebut dengan begitu banyak pengorbanan dalam melawan penjajahan bangsa furtugis dan Belanda mengampuh yang nama kemardekaan jiwa dan Raga dalam satu rahim bumi pertiwi yakni Indonesi . (Red Gus Mone AL Mughni)