free stats

Terapkan Restorative Justice, Kajari Cibinong Hentikan Tuntutan Kepada Lansia

Bogor, LENSANUSANTARA.CO.ID
Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor menerapkan restorative justice atau pemberhentian tuntutan dalam kasus tindak pidana penipuan terhadap tersangka Kadir dan Johan.

Kadir dan Johan yang dibebaskan pada hari ini oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Rabu 2 Maret 2022.

Sebelumnya sejak 3 Desember 2021 lalu, Kadir dan Johan ditahan di ruang tahanan Mako Polres Bogor.


Ia mendapatkan restorative justice, karena baru sekali melakukan tindak pidana penipuan, ketidakmampuan ekonomi dan karena tersangka Kadir yang merupakan seorang lanjut usia (Lansia), diketahui sedang sakit stroke.

Alasan restorative justice ini terpenuhi karena korban yaitu MD (15 tahun) beserta ibunya Siti Maryam Nurlela telah memberikan maaf dan ganti rugi atas kerugian yang korban alami.

Kasus ini bermula pada (28/11/2021) lalu, korban penipuan Muhammad Didi diajak dua orang pelaku berboncengan motor dari Pengadilan Negeri (PN) Cibinong hingga Cibibong City Mall (CCM). Sesampainya di mall tersebut, ia diiming-imingi cincin batu sakti (kebal) dengan contoh pelaku mensilet tangannya, lalu ia dipersyaratkan membaca kalimat ajimat dari PN Cibinong ke CCM dengan cara berjalan kaki, sementara itu hand phone milik korban dititipkan ke pelaku Kadir. Namun setelah ia melakukan perjalanan kaki hingga ke CCM, ternyata kedua pelaku penipuan sudah kabur hingga berhasil ditangkap aparat kepolisian pada lima hari berikutnya,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor Agustian Sunaryo kepada wartawan.

BACA JUGA :  Terima Tujuh Raperda dari Pemda Butur, DPRD Ajukan Empat Raperda Inisiatif

Ia menambahkan, selama ditahan hingga dilakukan pra penuntutan, karena latar belakang tersangka, Jaksa peneliti Kejaksaaan Negeri Kabupaten Bogor pun mengusulkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dan Kejaksaan Agung untuk memberikan restorarive justice.

BACA JUGA :  DPRD Pultab Gelar Paripurna Pengesahan APBD Perubahan

“Ternyata Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dan Kejaksaan Agung menyetujui untuk memberikan restorarive justice kepada kedua orang tersangka penipuan, hingga Rabu sore ini kami dengan persetujuan Polres Bogor membebaskan Kadir dan Irawan dari tuntutan hukum pidana penjara maksimal selama lima tahun sesuai pasal ketentuan 378 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP),” tambahnya.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor Haryono menuturkan bahwa tersangka Kadir dan Irawan menggunakan hasil penjualan hand phonde milik korban sebesar Rp 600 ribu untuk keperluan pengobatan dan kebutuhan pokok keluarganya.

“Kedua tersangka ini sesuai kesaksian keluarga dan warga tempat mereka tinggal memang diketahui bukan orang mampu, selain untuk memenuhi kebutuhan pokok sebesar Rp 300 ribu seperti yang dilakukan tersangka Irawam, ternyata Kadir menggunakan uang hasil penjualan hand phone sebesar Rp 300 ribu untuk membeli obat stroke. Dengan alasan lainnya, akhirnya Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor untuk pertama kalinya memberikan kebijakan restprative justice kepada kedua tersangka,” tutur Haryono.

BACA JUGA :  Inspektur Daerah Bantaeng Jadi Narasumber Workshop Dana Alokasi Khusus

Korban penipuan MD mengaku seperti terhipnotis atau tertipu daya saat tersangka Kadir dan Irawan melakukan penipuan pemberian cincin batu sakti, hingga ia begitu saja melaksanakan apa yang diperintah tersangka Kadir.

“Saya mau nunggu angkot, ternyata ditawari naik motor. Di CCM, saya ditawari cincin batu sakti dengan syarat membaca kalimat ajimat dari Gedung PN Cibinong ke CCM, ternyata handphone seharga Rp 2,5 juta yang saya titipkan ke para tersangka, ternyata dibawa kabur oleh mereka. Waktu itu, saya tertipu daya dan seperti terkena hipnotis,” ucap MD. (Moel/gust)