Simalungun, LENSANUSANTARA.CO.ID – Mengajar ngaji tanpa mengharapkan imbalan materi adalah bentuk pengabdian yang mulia dan penuh keikhlasan. Banyak guru ngaji di Indonesia yang rela menyisihkan waktu dan tenaga hanya untuk menyalurkan ilmu Al-Qur’an kepada generasi muda, tanpa pamrih dan tanpa meminta bayaran. Keikhlasan ini bukan hanya soal tidak menerima upah, tetapi juga menempatkan niat mengajar sebagai ibadah semata, mencari ridha Allah SWT.
Dewi hamidah, misalnya, mengabdikan dirinya mengajar ngaji anak-anak setiap hari di Masjid Jamik Lormes perdagangan I kec bandar Kabupaten Simalungun,tanpa membebankan biaya kepada muridnya. Baginya, ilmu agama adalah amanah yang harus disebarkan tanpa hambatan finansial.tanpa meminta imbalan sepeserpun dan rela berwiraswasta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia percaya bahwa Allah lah yang akan mencukupkan segala keperluannya.
Sikap ikhlas adalah menerima segala keadaan dan memberikan tanpa pamrih, sebagaimana yang diajarkan oleh para sahabat dan ulama besar. Melatih hati untuk ikhlas mengajar merupakan cara agar pengajaran menjadi ladang pahala yang terus mengalir, bahkan setelah guru tersebut tiada.
Keikhlasan mengajar ngaji tanpa mengharapkan imbalan materi adalah wujud nyata dari pengabdian yang tulus kepada Allah dan umat. Guru ngaji seperti Ibu Dewi Hamidah dan banyak lainnya adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terus menebar cahaya ilmu dan kebaikan demi masa depan generasi bangsa.














