Daerah

Warga Banjarnegara Sempat Cemas, Misteri Gempa di Wanayasa Terungkap

0
×

Warga Banjarnegara Sempat Cemas, Misteri Gempa di Wanayasa Terungkap

Sebarkan artikel ini
Tim BMKG dan BPDB Banjarnegara saat meninjau Desa Desa Bantar dan Kubang, Kecamatan Wanayasa, terkait suara gemuruh seperti tanah bergerak, Kamis, 19/2/2026. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).

‎Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO – Selama sepekan terakhir, warga di Desa Bantar dan Kubang, Kecamatan Wanayasa, diselimuti ketakutan dan kecemasan adanya getaran tanah, namun anehnya kasus tersebut tidak terdeteksi sensor Badan Gempa Nasional.

‎Namun fenomena getaran tanah berulang yang membuat warga selalu waspada siang malam, akhirnya mulai terjawab setelah otoritas terkait melakukan kajian cepat di lokasi kejadian.

‎Awalnya, rentetan getaran mulai dirasakan warga Dusun Jomblang Desa Kubang dan Bantar sejak 10 Februari 2026 lalu. Menurut salah satu warga bernama Misman menceritakan, guncangan pertama terjadi sekitar pukul 20.00 WIB dan berlanjut hingga dini hari.

‎”Awalnya kami anggap biasa, tapi sekarang makin sering dan warga mulai panik, rasanya bukan bergoyang ke samping, tapi seperti tanah amblas ke bawah,” ujar Misman ,Kamis (19/2/2026).

‎Misman juga mengungkapkan, Intensitas getaran mencapai puncaknya pada malam 16 Februari hingga dini hari, dan kemudian warga melaporkan merasakan guncangan hingga 5 kali dalam semalam.

‎”Kecemasan meningkat karena meskipun warga merasakan getaran nyata dan mendengar suara dentuman dari dalam tanah, informasi resmi dari BMKG pada saat itu menyatakan tidak ada aktivitas gempa tektonik yang terekam, tapi memang terjadi,” ungkap Misman.

‎Merespons laporan tersebut, tim gabungan dari BPBD Banjarnegara dan BMKG langsung melakukan kajian, Tim yang dipimpin oleh Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Ir. Junaedi, mengungkap beberapa temuan krusial yaitu Kondisi Geologi di Wilayah Bantar berada di atas Formasi Rambatan yang terdiri dari lapisan serpih, napal, dan batu pasir dengan ketebalan mencapai 300 meter.
‎Lapisan ini berada di bawah Formasi Gunung api Jembangan.

‎Analisis geologi juga menunjukkan adanya aktivitas patahan atau sesar aktif di bawah permukaan. Suara dentuman dan getaran “amblas” yang dirasakan warga diduga berasal dari pelepasan energi pada lapisan batuan di bawah Formasi Rambatan.

‎”Air hujan yang meresap meningkatkan beban massa batuan dan melumasi bidang patahan, sehingga memicu pergeseran,” Ujar Junaedi.

‎Junaedi menambahkan, Faktor Lingkungan serta Intensitas hujan yang tinggi dalam durasi lama diduga menjadi pemicu (trigger), dan dirinya juga menjelaskan karena skala gempa yang sangat lokal dan berada di kedalaman dangkal namun teredam lapisan batuan tebal, sensor jarak jauh milik BMKG dan PVMBG tidak menangkap sinyal tersebut sebagai gempa tektonik besar.

‎”Hingga saat ini, tim gabungan terus memantau pergerakan tanah di bawah kaki gunung tersebut untuk mengantisipasi potensi gempa susulan atau gerakan tanah yang lebih masif,” kata Junaedi.

‎Guna memberikan rasa aman dan data yang lebih akurat, BMKG telah memasang seismograf portabel di tiga titik strategis yaitu di SDN 1 Bantar, Rumah Kepala Desa Bantar, Dusun Jomblang, Desa Kubang dan juga dari BPBD Banjarnegara sudah melakukan himbauan agar masyarakat tetap tenang dan tetap waspada dan melapor jika menemukan rekahan tanah baru, amblasan, atau kerusakan bangunan.

‎Selain itu, masalah 22 rumah yang rusak sejak 2022 dan sedang dalam proses usulan relokasi tetap menjadi prioritas meskipun masih terkendala pengadaan lahan.

‎Meski sebelumnya sempat dianggap tidak terekam, Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Dieng merilis data getaran yang tercatat pada alat mereka di periode kritis:16 Feb (22.06 WIB): Gempa Tektonik Jauh (Amplitudo 8mm).17 Feb (03.20 WIB): Gempa Tektonik Lokal (Amplitudo 42.7, Durasi 46 detik).Data ini mengonfirmasi bahwa memang terjadi aktivitas seismik lokal yang cukup kuat untuk dirasakan warga namun bersumber sangat dekat. (Gunawan).

BACA JUGA :
Kirab 1000 Obor, Mewarnai Ruwat Bumi Desa Purwonegoro Banjarnegara, Kepala Desa : Api Melambangkan Semangat