Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID — Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah pegawai berjoget di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso viral di media sosial, khususnya di platform TikTok.
Video tersebut memicu beragam reaksi dari warganet dan sejumlah aktivis di Bondowoso, mulai dari kritik hingga kekhawatiran terkait standar profesionalitas dan kebersihan dapur.
Menanggapi hal itu, Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kepala SPPG setempat guna menelusuri kejadian tersebut secara menyeluruh.
“Kami sudah koordinasikan dengan kepala SPPG. Video dibuat saat proses produksi sudah selesai dan sedang dalam tahap pembersihan,” ujar Mila dalam keterangannya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya belum mengambil kesimpulan akhir karena masih melakukan pengecekan secara menyeluruh.
“Kami masih harus melakukan pengecekan total terlebih dahulu untuk menanggapi ini. Yang jelas, teguran kepada kepala SPPG sudah dilakukan. Terima kasih atas informasi yang diberikan, sehingga membantu pengawasan kepada kami,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Lojojor, Ilham Wahyudi, turut memberikan klarifikasi terkait video yang beredar. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam pembuatan konten tersebut dan berjanji akan melakukan evaluasi ke depan.
“Terkait pembuatan video TikTok, sebelumnya kami sangat berterima kasih sudah diingatkan. Ke depan kami berjanji akan lebih baik lagi,” ungkap Ilham.
Ia menjelaskan bahwa video tersebut diambil setelah seluruh proses distribusi makanan selesai dilakukan.
“Sedikit klarifikasi, video itu diambil oleh tim konten setelah jam distribusi selesai. Namun untuk ke depannya kami akan terus melakukan pembenahan agar lebih baik lagi. Terima kasih atas kritik dan sarannya,” jelasnya.
Viralnya video ini menjadi perhatian publik, terutama terkait etika kerja di lingkungan dapur program pemerintah. Sejumlah warganet menilai bahwa meskipun kegiatan dilakukan setelah jam kerja, konten semacam itu tetap perlu mempertimbangkan citra dan standar operasional yang berlaku.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga profesionalitas serta kehati-hatian dalam membuat konten di lingkungan kerja, terlebih yang berkaitan dengan pelayanan publik.














