Tangerang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Edisi khusus ketika beberapa Guru Besar berpandangan mengenai relevansi pemikiran RA. Kartini diera digital ini. Seperti yang dituturkan Prof. Dr. Francisca Sestri,S.E.,M.M. kepada awak media. Menurut Rektor UNIPI Tangerang yang juga sebagai Sekjen LPER (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat). Francisca mengumpulkan informasi dengan mendengarkan dan menyimak langsung dari para tokoh pendidikan tinggi tersebut yang tidak diragukan lagi kualitas kepemimpinannya baik dari sudut pandang penguasaan pengetahuan maupun terapannya. demikian sajiannya.
Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K)., Ph.D. Rektor Universitas Gajah Mada (UGM), berpendapat:
Yang terkait bagaimana peran sosok Kartini dalam konteks sekarang ataupun masa yang akan datang dari gambaran seorang akademisi “bagi saya sebagai akademisi Kartini bukan hanya sejarah atau sesuatu yang pernah terjadi tetapi merupakan bentuk perwujudan dari intelektual lintas pencerdasan yang memberdayakan.
Oleh sebab itu di masa depan tentunya kita berharap banyak Kartini-Kartini yang semakin masif berkiprah bukan hanya berpartisipasi tetapi juga menjadi bagian kepemimpinan yang substansial, untuk harapan-harapan yang kami sematkan ke depan, yang terkait dengan sosok Kartini masa depan dari angle seorang akademisi: Pertama kita berharap bahwa ke depan lebih banyak lagi perempuan yang memang mempunyai kemampuan intelektual, tentunya di dunia akademik dia berperan sebagai leader-leader di dalam keilmuan.
Jadi bukan hanya yang berhasil itu adalah orang yang berada di struktural tetapi termasuk juga sebagai Peneliti-Peneliti yang nantinya menghasilkan produk-produk hilirisasi yang handal. Kedua perempuan masa depan tentunya “dia” adalah pelopor untuk adaptasi di dunia yang sangat masif untuk berubah khususnya bagi perkembangan teknologi dan inovasi, dimana kita berharap dia menguasai perkembangan yang terkait dengan kemajuan digital dan teknologi khususnya untuk pendidikan, apakah itu teknologi pembelajaran termauk AI dalam penggunaan yang etis untuk pengembangan riset riset yang sifatnya adalah disiplin.
Yang ke tiga adalah aspek yang terkait dengan mental dan spirit, yang saya kira ini juga sangat diperlukan karena kedepan akan sangat kompetitif dan penuh ketidakpastian.
Dengan demikian harapan Sosok Kartini ke depan selain memiliki passion atau keinginan yang kuat, tetapi juga dia mempunyai ketekunan sehingga gabungan ini menjadi formula keberhasilan Kartini ke depan untuk menghadapi tantangan-tantangan di lingkungan kerjanya, dan berharap Kartini ke depan adalah Kartini yang mampu menjadi mentor-mentor pembuat materinya.
Jadi orang-orang yang berdaya dan hebat tidak hanya melihat bahwa seorang mentor harus menguasai semuanya tetapi bagaimana seorang mentor dapat memberikan ruang gerak untuk berkembang seluas-luasnya kepada generasi muda yang tentunya kalau bisa melampaui pencapaian yang dicapai oleh seorang mentor sebelumnya itu.
Terakhir bagaimanapun capaian prestasi perempuan tetap harus bisa menyeimbangkan antara perannya di dunia modern dengan perannya secara tradisional, jadi agar apa yang disematkan dan diharapkan oleh akar budaya kita juga dapat ditumbuhkan nilai-nilai luhur budaya kita. Selamat Hari Kartini” ungkap bu rektor UGM menginspirasi.
Pendapat kedua Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng-Acad staff UGM, Rektor (2017-2022) mengatakan:
“Memeringati Hari Kartini 21 April 2026 ini ada baiknya kita berefleksi pada pemikiran RA Kartini sekitar 130 tahun yang lalu. Pemikiran RA Kartini tetap relevan sebagai sumber inspirasi dalam pembinaan kepemimpinan perempuan masa kini.
Kartini tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, tetapi juga menanamkan nilai keberanian berpikir, kemandirian, integritas, serta visi tentang kemajuan masyarakat yang inklusif. Dalam konteks saat ini, di mana perempuan memiliki peluang yang jauh lebih luas, tantangan justru bergeser pada kualitas karakter dan kepemimpinan yang dibangun.
Ada sebagian generasi perempuan masa kini yang barangkali menghadapi kecenderungan kurang produktif, seperti orientasi pada pengakuan instan, ketergantungan pada validasi sosial (misalnya melalui media digital), serta kecenderungan menghindari proses panjang yang menuntut ketekunan untuk mencapai kesuksesan.
Selain itu, muncul pula sikap pragmatis yang sempit, kurangnya kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan besar, serta minimnya keberanian untuk berpikir kritis dan mandiri. Dalam beberapa kasus, semangat kolaborasi juga tergantikan oleh kompetisi yang tidak sehat atau bahkan sikap individualistik.
Dalam kondisi seperti ini pemikiran Kartini menjadi sangat relevan. Kartini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan harus berakar pada keberanian intelektual. Berani mempertanyakan ketidakadilan dan membangun gagasan baru.
Ia juga memberi teladan ketekunan dalam belajar, meskipun dalam keterbatasan, serta komitmen untuk membawa manfaat bagi sesama.
Nilai-nilai ini dapat menjadi dasar untuk mengeliminasi budaya instan dengan menggantinya menjadi budaya proses, pembelajaran berkelanjutan, dan disiplin diri.
Lebih jauh, RA Kartini mengajarkan pentingnya integritas dan keaslian diri. Dalam dunia yang sering mendorong pencitraan, perempuan pemimpin perlu kembali pada kejujuran, konsistensi nilai, dan keberanian untuk berbeda. Ketergantungan pada validasi eksternal dapat digantikan dengan pembangunan kepercayaan diri berbasis kompetensi dan kontribusi nyata.
Sikap individualistik dapat diubah menjadi semangat kolektif melalui empati sosial dan kepedulian terhadap kemajuan bersama, sebagaimana visi RA Kartini tentang emansipasi yang tidak hanya membebaskan diri sendiri, tetapi juga masyarakat luas.
Akhirnya, pembinaan kepemimpinan perempuan yang terinspirasi oleh RA Kartini harus diarahkan pada pembentukan karakter yang kuat dan visioner: perempuan yang berpikir kritis, berintegritas, berdaya tahan tinggi, serta memiliki orientasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa. Dengan meneladani semangat dan pemikiran RA Kartini, perempuan masa kini tidak
hanya menjadi partisipan dalam pembangunan, tetapi juga penggerak perubahan yang membawa arah baru yang lebih adil, beradab, dan berkelanjutan” ungkapnya kepada Francisca.
Sedangkan Prof. Dr. Drs. Trubus Rahardiansah Prawiraharja, M.Si., S.H.,M.H. Guru Besar Sosiologi Hukum dan Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti. Mengungkapkan bahwa pemikiran RA. Kartini masih sangat relevan dengan perkembangan dan kehidupan sosial masa kini, era digital.
Dinamika yang terjadi begitu cepat,baik teknologi maupun lingkungan hal ini menuntut para Kartini masa depan harus memiliki kecerdasan yang selalu diperbarui dengan tetap berakar pada budi pekerti luhur, baik yang sudah diajarkan dilingkungan keluarga maupun di dunia pendidikan.
Dengan demikian Para Kartini masa kini dan yang akan datang akan memberikan dampak kepada kemajuan bangsa dan negara, ungkapnya melalui telepon pagi ini. .












