Daerah

Sedimen Waduk Merica Sampai Titik Kritis, Pengerukan Lumpur untuk Batu Bata di Kritik Pegiat Lingkungan

1007
×

Sedimen Waduk Merica Sampai Titik Kritis, Pengerukan Lumpur untuk Batu Bata di Kritik Pegiat Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Pemandangan bendungan waduk merica Banjarnegara, situasinya sangat memperihatinkan, Sabtu, 16/5/2026. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).

Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Setelah berulang kali diberitakan beberapa media, Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, akhirnya meninjau langsung kondisi Bendungan Mrica di Banjarnegara yang kini mengalami sedimentasi parah pada Jumat, (15/5/2026) kemarin.

Didampingi oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Banjarnegara, Junaedi, S.T., tim BBWSO melihat langsung bagaimana bendungan yang dibangun pada 1989 ini sedang dalam kondisi sangat tercekik oleh sedimen.

Example 300x600

Isu sedimentasi yang selama ini dianggap sebagai masalah operasional pembangkit, kini telah bergeser menjadi alarm mitigasi bencana yang mendesak.

Tumpukan lumpur yang masif telah menutupi sebagian besar kapasitas waduk, sehingga mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sekaligus meningkatkan risiko bencana besar bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Serayu.

Kunjungan BBWSO dan BPBD Kabupaten Banjarnegara pada Jumat sore kemarin, seolah menegaskan satu hal, yaitu mitigasi tidak bisa menunggu.

Selama ini, dalam metode pembersihan yang dilakukan secara manual tersebut hanya mampu menangani sekitar 12% dari total 4 juta meter kubik sedimen yang masuk setiap tahunnya, dan sisanya menumpuk dan mengeras yang bisa menjadi ancaman.

“Kita harus ingat, isu Mrica saat ini adalah isu nyawa ribuan warga di sepanjang DAS Serayu,” jelas Junaedi.

Junaedi juga mengungkapkan, dalam sejarah mencatat Mrica dibangun dengan visi menjadi tulang punggung energi, namun realita di tahun 2026 menunjukkan kondisi kritis, waduk ini hanya menyisakan sekitar 10 % kapasitas efektifnya.

“Data ini bukan sekadar angka, ini adalah alarm keras, dengan 90% kapasitas terisi sedimen, bendungan berada dalam posisi sangat rentan terhadap ancaman cuaca ekstrem atau guncangan seismik seperti Megathrust,” tambah Junaedi di sela-sela peninjauan.

Ketakutan akan Mrica Jebol bukan lagi sekadar isapan jempol saat ini, jika sampai tanggul gagal menahan beban akibat luapan air yang tak lagi tertampung, ribuan jiwa di Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap berada dalam zona bahaya.

Sebagai solusi, teknologi Mud Suction Pump mulai digulirkan, berbeda dengan pengerukan konvensional yang lambat, metode ini bekerja bak pembersih vakum raksasa yang menyedot lumpur kental melalui jaringan pipa menuju tujuh titik dumping area seluas 145 hektar di Kecamatan Bawang dan Purwanegara.

Sementara itu, menurut salah satu pemerhati dan pegiat lingkungan, Jalu Dwi Prasetyo Aji saat ditemui wartawan menilai, langkah yang diambil selama ini masih jauh dari kata cukup, dirinya melontarkan kritik keras terhadap PT Indonesia Power selaku pengelola.

Menurut Jalu, penanganan sedimentasi di Bendungan Mrica seringkali terjebak dalam kegiatan yang bersifat kosmetik atau seremonial.

“Jangan cuma acara-acara seperti pembersihan enceng gondok atau pembuatan batu bata dari sedimen, itu tidak signifikan karena volume lumpur yang turun sangat masif,” tegas Jalu, Sabtu, (16/5/2026).

Jalu juga menekankan, bahwa kondisi Mrica saat ini membutuhkan operasi bedah, bukan sekadar vitamin, menurutnya jika reboisasi adalah langkah pencegahan di hulu, maka pengerukan besar-besaran adalah harga mati untuk menyelamatkan hilir.

“Erosinya dari hulu itu sangat banyak, dan ketika yang diambil cuma sedikit, maka tidak mencukupi, lihat saja di wisata Sekong yang berada di komplek bendungan Panglima Sudirman, kedalamannya dulu 10 meter, sekarang tinggal 2-3 meter,” beber Jalu.

Keresahan yang mulai mengakar di tingkat bawah juga tidak lepas dari sorotan. Masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai kini mulai dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun.

” Antara pemerintah pusat, daerah, dan Indonesia Power, saat ini seharusnya jangan saling lempar tanggung jawab, tapi bagaimana mencari solusi bersama demi ribuan nyawa,” tegas Jalu.

Saat ini, waktu seolah sedang berkejaran dengan laju lumpur, misi menyelamatkan Bendungan Mrica bukan lagi sekadar menjaga pasokan listrik di Pulau Jawa, melainkan menjaga peradaban di sepanjang Sungai Serayu agar tidak terhapus oleh bencana yang sebenarnya bisa diantisipasi.

Jika langkah radikal tidak segera dipercepat, warisan pembangunan ini mungkin hanya akan menyisakan cerita tentang waduk Panglima besar Sudirman yang berubah menjadi daratan lumpur yang mengancam. (Gunawan).