Malang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Upaya mengapresiasi dan menghidupkan karya sastra lokal terus digalakkan di lingkungan akademis. Paling baru, Dr. Etty Umamy, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Wisnuwardhana Malang, tertarik untuk membawa “Novel Bersampul Batik” karya Mohammad Hairul ke dalam ruang perkuliahan.
Novel tersebut dijadikan sebagai contoh konkret karya sastra yang akan dibedah secara mendalam, khususnya untuk menggali proses kreatif penulis, dalam mata kuliah Prosa Fiksi.
Menurut Dr. Etty, memilih karya sastra yang dekat dengan konteks budaya memberikan warna tersendiri bagi mahasiswa. Melalui “Novel Bersampul Batik”, mahasiswa tidak hanya diajak membaca sebuah cerita, tetapi juga ditantang untuk membongkar “dapur rahasia” di balik terciptanya karya tersebut.
“Sangat menarik untuk menggali bagaimana proses kreatifnya. Mahasiswa perlu melihat bagaimana sebuah ide tentang identitas budaya, seperti batik, bisa ditransformasikan ke dalam struktur narasi prosa fiksi yang utuh,” ujarnya saat ditemui di ruang kerja.
Dalam perkuliahan Prosa Fiksi nanti, fokus kajian tidak hanya berhenti pada unsur intrinsik dan ekstrinsik teks saja. Mahasiswa akan diajak menelusuri perjalanan panjang Mohammad Hairul dalam melahirkan novel ini.
Mulai dari tahap pencarian Ide tentang bagaimana filosofi budaya diintegrasikan ke dalam plot dan karakter. Tentang proses riset dan inkubasi, termasuk tantangan serta dinamika penulisan yang dihadapi penulis hingga draf berhasil diterbitkan.
Termasuk juga estetika bahasa yang meliputi pilihan diksi yang digunakan untuk menghidupkan atmosfer cerita agar terasa estetis dan bernyawa.
Langkah inovatif yang diambil oleh Dr. Etty Umamy ini diharapkan dapat memberikan penyegaran dalam metode pembelajaran sastra di kampus. Selain teori, mahasiswa mendapatkan studi kasus riil dari penulis yang aktif berkarya.
Hadirnya “Novel Bersampul Batik” di ruang kuliah FKIP Universitas Wisnuwardhana Malang ini juga diharapkan mampu memantik pemikiran kritis mahasiswa.
Lebih dari itu, langkah ini diharapkan dapat memotivasi para generasi muda—khususnya calon pendidik bahasa—untuk tidak ragu terjun langsung menjadi pelaku kreatif dan melahirkan karya sastra mereka sendiri di masa depan.













