Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Dunia pendidikan tinggi Islam di Kabupaten Bondowoso memasuki babak baru. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Abu Zairi resmi bertransformasi menjadi Institut Kiai Haji Abu Zairi, sebuah langkah strategis yang diharapkan mampu memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Transformasi tersebut menandai perubahan status kelembagaan yang tidak hanya sebatas pergantian nama, tetapi juga menjadi komitmen untuk menghadirkan perguruan tinggi yang lebih maju, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional.
Seiring perubahan menjadi institut, kampus juga memperluas pilihan pendidikan dengan membuka empat program studi baru jenjang Sarjana (S1), yaitu:
S1 Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PMI)
S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)
S1 Perbankan Syariah
S1 Manajemen Bisnis Syariah
Kehadiran program-program studi tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi Islam yang semakin berkembang, baik di bidang pendidikan maupun ekonomi syariah.
Rektor Institut Kiai Haji Abu Zairi, Dr. Kyai H. Muhammad Holid, S.Ag., M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas perubahan status kelembagaan tersebut.
“Alhamdulillahirabbil ‘alamin, dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, kami menyampaikan rasa syukur atas transformasi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Abu Zairi menjadi Institut Kiai Haji Abu Zairi. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama atau bentuk kelembagaan, melainkan komitmen untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih berkualitas, lebih luas jangkauannya, dan lebih besar kontribusinya bagi umat, bangsa, dan peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, Institut Kiai Haji Abu Zairi memiliki visi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, keilmuan, serta kearifan lokal.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, berintegritas secara moral, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, perubahan status menjadi institut juga merupakan amanah besar yang harus dijaga bersama oleh seluruh sivitas akademika dan seluruh pemangku kepentingan.
Karena itu, pihaknya mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, tokoh masyarakat, pemerintah, dunia usaha, serta berbagai mitra strategis untuk bersama-sama membangun Institut Kiai Haji Abu Zairi menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Rektor meyakini bahwa kemajuan sebuah institusi tidak dapat dicapai secara individu, melainkan melalui kolaborasi, kerja keras, dan doa.
Ia berharap Institut Kiai Haji Abu Zairi mampu menjadi pusat lahirnya generasi intelektual Muslim yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.
Menutup pernyataannya, Dr. Kyai H. Muhammad Holid menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan atas transformasi tersebut.
“Bertransformasi untuk Kemajuan, Berkarya untuk Peradaban.”
Dengan perubahan status menjadi institut dan penambahan empat program studi baru, Institut Kiai Haji Abu Zairi diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai salah satu perguruan tinggi Islam yang mampu mencetak lulusan profesional, religius, serta siap menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.














