Purbalingga, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pertandingan semi final sepak bola Open Turnamen Danlanud Cup XXIV yang mempertemukan dua kesebelasan dari Banjarnegara, yaitu Andalas Kayuares dengan GAMA Adipasir Rakit di Stadion Garuda Manunggal Lanud Jenderal Besar Soedirman, Wirasaba, Purbalingga, ricuh dan membuat ratusan penonton masuk ke tengah lapangan mengejar wasit yang dianggap tidak adil dalam mengambil keputusan.
Kericuhan terjadi berawal saat keputusan antara wasit dengan hakim garis tidak sinkron saat pemain belakang GAMA dianggap handball di menit ke 12.00, namun pengadil lapangan tidak memberikan tembakan bebas untuk Andalas.
Akibatnya pendukung Andalas dari segala penjuru yang jumlahnya diperkirakan hampir mencapai seribu orang, langsung memasuki lapangan dan mengejar pengadil lapangan, sehingga wasit mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya, terutama wajah yang terkana bogem penonton.
Sempat dihentikan hampir 30 menit, dan setelah kedua pelatih dan Panitia melakukan negoisasi sangat alot, dengan di pimpin wasit tanpa lisensi yang diambilkan dari anggota panitia, pertandingan akhirnya dilanjutkan, namun hingga babap pertama berakhir kedudukan tetap 0-0.
Memasuki babak kedua, kericuhan besar kembali terjadi, saat salah satu pemain Belakang GAMA dianggap melanggar penyerang depan Andalas Hugo Samir yang terjatuh di dalam kotak pinalti kesebelasan GAMA, yang menurut wasit melihat itu bukan pelanggaran.
Merasa kecewa, ratusan pendukung Andalas yang berada di pinggir lapangan sebelah barat langsung mengejar hakim garis hingga lari terbirit-birit keluar lapangan.
Usai kericuhan kedua, pertandingan kembali berjalan, permainan kedua kesebelasan dengan ritme tempo tinggi, hingga membuat beberapa kali wasit meniup peluitnya karena pelanggaran yang dibuat kedua kesebelasan.
Namun lagi-lagi keributan kembali meledak, disaat wasit meniup peluitnya tanda babak kedua telah berakhir, saat pelatih Andalas protes keras karena menganggap waktu tersisa masih cukup lama yaitu 10 menit.
“Sangat kecewa pokoknya sama Kepemimpinan wasitnya, parah semua dua-duanya, panitianya juga tidak jelas, bukak wasit disuruh jadi wasit, tidak ada wasit cadangannya, padahal waktu masih 10 menit kok langsung selesai, sejak awal selalu dirugikan kita,” ungkap salah satu pendukung Andalas Yono, Kamis, (30/7/2026).
Sama seperti sebelumnya, setelah adanya negoisasi lama, pertandingan kembali di lanjutkan dengan suasana remang-remang, karena kurangnya lampu pencahayaan. Namun ada satu pemandangan menarik karena tidak adanya hakim garis satupun yang ikut membantu wasit utama.
Setelah lama menanti, akhirnya gol tunggal Striker Andalas Hugo Samir mampu menjebol gawang GAMA yang dijaga penjaga gawang senior Lukito, dsn hingga peluit panjang berbunyi, skor tetap berakhir 1-0.
Kurang sigap dan tegasnya panitia pertandingan sepak bola Open Turnamen Danlanud Cup XXIV terutama dalam pengamanan juga dapat kritikan keras dari salah satu official kesebelasan GAMA.
“Yang jelas panitianya kurang sportif tidak tegas mas, seharusnya penonton jangan sampai bisa masuk lapangan, dan akhirnya terjadi pemukulan kepada wasit, pengamanannya sangat lemah sekali menurut saya, dan keputusan-keputusan yang diambil panitia itu sangat merugikan kedua kesebelasan, kasihan para pemainnya, pertandingan semi final tapi pengamanan tidak optimal dan maksimal,” kata Fajar.
Masih kata Fajar,” Kalau final masih seperti ini pengamanannya, ya sama saja ingin mengadu penonton, jangan hanya mau uang tiketnya saja, tapi tanggung jawab kenyamanan dan keselamatan pemain, wasit harusnya juga wajib di pikirkan oleh panitia, kalau masih begini ya tahun besok jangan harap kita ikut, untung tadi tidak sampai ada korban jiwa yang sangat serius, kalau sampai ada yang fatal siapa yang tanggung jawab, dengan ribuan massa yang masuk lapangan begitu,” pungkas fajar.
Dengan kemenangan 1-0 atas GAMA, kesebelasan Andalas melakukan ke babak final akan menghadapi pemenang antara kesebelasan Mandiraja Banjarnegara yang akan menjamu tim dari Rama Sena dari Purwokerto.(Gunawan ).














