Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bondowoso menyoroti besarnya potensi ekonomi dari pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bahkan, jika dihitung secara sederhana, potensi pendapatan pemilik dapur SPPG dinilai bisa jauh melampaui penghasilan resmi seorang Bupati.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai gambaran besarnya perputaran ekonomi dari program nasional penyediaan makanan bergizi bagi pelajar yang saat ini mulai berjalan di berbagai daerah.
Ketua SMSI Bondowoso menyebut, jika dikelola secara profesional, satu dapur SPPG dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar dalam setahun.
“Secara hitungan sederhana saja, peluang usaha dari satu dapur SPPG cukup menjanjikan. Bahkan bisa lebih besar dari penghasilan resmi seorang kepala daerah,” ujarnya.
Gaji Resmi Bupati
Berdasarkan regulasi pemerintah, gaji pokok seorang bupati di Indonesia sebesar Rp2.100.000 per bulan. Selain itu terdapat tunjangan jabatan sekitar Rp3.780.000 per bulan.
Jika digabungkan, maka total penghasilan tetap bupati dari gaji pokok dan tunjangan jabatan mencapai sekitar Rp5.880.000 per bulan.
Diperkirakan Dalam satu tahun, penghasilan tersebut menjadi:
Rp5.880.000 x 12 bulan = Rp70.560.000 per tahun, belum termasuk fasilitas negara seperti rumah dinas, kendaraan dinas, dan biaya operasional jabatan.
Pendapatan Dapur SPPG
Sementara itu, dalam skema program MBG yang diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN), pemilik atau pengelola dapur SPPG mendapatkan biaya operasional atau pengelolaan sekitar Rp2.000 per porsi makanan.
Jika satu dapur melayani 3.000 porsi makanan per hari, maka estimasi pendapatan pengelola dapur dari biaya pengelolaan adalah:
3.000 porsi x Rp2.000 = Rp6.000.000 per hari
Apabila dihitung berdasarkan hari operasional sekolah sekitar 260 hari dalam setahun (setelah dikurangi hari Minggu dan hari libur nasional), maka potensi pendapatan dalam satu tahun mencapai:
Rp6.000.000 x 260 hari = Rp1.560.000.000 per tahun.
Estimasi Pendapatan tersebut tentu masih harus digunakan untuk menutup berbagai kebutuhan operasional dapur seperti tenaga kerja, gas, listrik, distribusi, dan perawatan peralatan.
Potensi Ekonomi Program MBG
Meski demikian, SMSI Bondowoso menilai perputaran dana dari program ini menunjukkan bahwa sektor pelayanan gizi memiliki potensi ekonomi yang besar di daerah.
Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi pelajar, tetapi juga membuka peluang usaha baru di sektor kuliner skala besar, mulai dari pemasok bahan pangan, tenaga dapur, hingga distribusi makanan.
Namun, sangat disayangkan apabila program baik tersebut disalahgunakan dengan mangambil laba sebanyak-banyaknya tanpa mengutamakan kualitas dan kandungan gizinya.
“Sesuai pantauan di lapangan dan aduan masuk ke sekretariat kami, masih banyak SPPG di Bondowoso yang mengecewakan, menu MBG ketika ditotal masih dibawah ketentuan”. Ungkap Arik Kurniawan Ketua SMSI Bondowoso
SMSI Bondowoso berharap program tersebut tetap dijalankan secara transparan dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.
“Program ini sangat baik, tetapi pengelolaannya harus akuntabel agar tujuan utamanya meningkatkan gizi anak-anak Indonesia tetap tercapai,” pungkasnya Arik.
Laporan Pengaduan MBG Kabupaten Bondowoso: 0895403109220














