Kuliner

Ale-ale Silungkang, Kue Tradisional Legendaris yang Jadi Cita Rasa Khas Sawahlunto

1682
×

Ale-ale Silungkang, Kue Tradisional Legendaris yang Jadi Cita Rasa Khas Sawahlunto

Sebarkan artikel ini
Kota Sawahlunto tidak hanya dikenal sebagai kota warisan tambang, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. Salah satunya adalah Ale-Ale, kue khas Silungkang yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sajian favorit masyarakat.

Sawahlunto, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kota Sawahlunto tidak hanya dikenal sebagai kota warisan tambang, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. Salah satunya adalah Ale-Ale, kue khas Silungkang yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sajian favorit masyarakat.

Ale-Ale merupakan kue tradisional berbentuk bundar pipih yang sekilas menyerupai serabi. Namun, berbeda dengan serabi pada umumnya, Ale-Ale tidak disajikan dengan kuah santan. Kue ini memiliki tekstur yang lembut dengan aroma harum pandan serta cita rasa gurih berpadu manis yang khas.

Example 300x600

Masyarakat Silungkang telah mengenal Ale-Ale sejak puluhan tahun lalu. Kue ini dipercaya telah menjadi bagian dari tradisi kuliner desa sejak masa lampau dan biasa disajikan sebagai hidangan pagi maupun suguhan bagi tamu. Hingga kini, resep pembuatannya tetap dipertahankan secara turun-temurun oleh para pembuat kue di Silungkang.

BACA JUGA :
Silungkang Oso Masuk Nominasi Nagari Creative Hub 2026, Tim Verifikasi Provinsi Sumbar Lakukan Penilaian

Ale-Ale dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti tepung beras, santan kental, air kelapa, tape, daun pandan, dan gula pasir. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan rasa yang khas sekaligus aroma yang menggugah selera.

Proses pembuatannya pun memerlukan ketelatenan. Adonan biasanya dipersiapkan sejak malam hari, kemudian dipanggang menjelang dini hari hingga subuh menggunakan cetakan logam berbentuk cekung yang menyerupai cetakan martabak mini. Cara memasak tradisional ini menjadi salah satu faktor yang membuat cita rasa Ale-Ale tetap autentik.

BACA JUGA :
Wali Kota Sawahlunto Tutup SMANSA CUP III, Dorong Pembinaan Atlet Pelajar dan Ekonomi Masyarakat

Setelah matang, Ale-Ale siap dipasarkan pada pagi hari. Kue ini umumnya dijual dengan harga sekitar Rp3.000 per buah dan menjadi pilihan sarapan masyarakat. Banyak penikmat kuliner menikmati Ale-Ale bersama secangkir kopi atau teh hangat.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto, Ale-Ale dapat dengan mudah ditemukan setiap pagi di kawasan sekitaran nagari Silungkang. Keberadaannya menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner yang memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Silungkang.

BACA JUGA :
Ratusan Warga Meriahkan Fun Walk Silungkang 2026, Pererat Kebersamaan di Masa Libur Sekolah

Di tengah berkembangnya berbagai kuliner modern, Ale-Ale tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai makanan tradisional khas Sawahlunto. Kuliner legendaris ini tidak hanya menawarkan cita rasa yang khas, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Silungkang yang patut terus dilestarikan.

Tak heran, banyak perantau yang mengaku selalu merindukan Ale-Ale saat pulang kampung. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sawahlunto, mencicipi Ale-Ale Silungkang menjadi pengalaman kuliner yang sayang untuk dilewatkan.(Suherman)