Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Akibat imbas proyek irigasi milik Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang jebol di Gemuruh, Kecamatan Bawang, yang hingga sekarang belum selesai karena dianggap lambat pengerjaanya, ratusan hektar sawah milik petani Desa Serang gagal panen, akibat kurangnya pasokan air yang memadai.
Selain sawah, imbas dari lambatnya proyek milik BBWSO juga merugikan para pemilik kolam ikan hingga ratusan juta sehingga terpaksa menjual hasilnya dengan harga murah.
Dengan wajah kecewa akibat tanaman padinya gagal panen dan murahnya harga jual ikan, karena dampak proyek irigasi milik BBWSO yang menjadi biang kerok karena pengerjaanya dianggap para petani dalam mengerjakan seperti main-main. Dengan membawa tulisan mengecam dan mengancam akan melakukan Audensi besar-besaran ke gedung DPRD Banjarnegara agar bisa dipertemukan dengan pihak terkait.
” Kami merasa di bohongi oleh pihak BBWSO yang katanya sebulan rampung pengerjaanya ternyata sampai sekarang belum apa-apa proyeknya, sehingga kami semua para petani desa Serang kena imbasnya, padi kami gagal panen, ikan di kolam banyak dijual murah, makanya kami hari ini melakukan aksi sementara, dan jika tidak di tanggapi waktu dekat kami akan melakukan audensi besar-besaran ke gedung DPRD agar bisa menjadi jembatan bagi kami masyarakat yang terdzolimi,” ungkap Sarmidi, Kamis, (16/7/2026).
Ancaman juga disampaikan Petani lainnya Nur Budi, dirinya menegaskan jika dalam satu Minggu tidak ada kepastian tampungnya proyek irigasi yang longsor di Desa Gemuruh yang sempat di tinjau oleh Dirjen DSA Kementrian PU tersebut tidak secepatnya di tangani, bersama warga Desa lainnya yang terdampak akan mengadakan aksi lanjutan menemui Bupati untuk membantu mendatangkan pihak BBWSO selaku yang menanganinya.
“Soalnya ini sudah merugikan bagi kami petani Desa Serang, kami merugi hingga ratusan juta rupiah, siapa yang mau ganti kalau sudah seperti ini, kering semua padi kami tidak ada yang bisa dipanen sama sekali, maka jika keluhan kamu hari ini tidak sampai ada tanggapan, kami akan mengajak petani dan masyarakat desa lainnya untuk datang ke gedung DPRD hingga Bupati, untuk mengundang pihak BBWSO,” tegas Nur Budi.
Dilokasi yang sama, Kepada Desa Serang, Jito Setya Budi yang mendampingi masyarakatnya juga memberikan dukungan penuh, jika nantinya mereka akan melakukan Audensi kalau memang tidak ada tanggapan dari pihak BBWSO selaku yang bertanggung jawab.
“Sebagai Kepala Desa saya sangat mendukung dengan langkah masyarakat kami, karena memang sangat dan sangat merugikan bagi para petani dan peternak ikan, kerugiannya tidak sedikit soalnya, akibatnya kan bisa dibilang lumpuh total saat ini akibat kekeringan, padahal dulu pihak BBWSBS yang berjanji akan menggunakan pompa untuk mengairi 161 hektar, malah nyatanya tidak sesuai, soalnya pernah saya ke lokasi proyek, masak proyek besar yang kerja hanya beberapa orang saja, dan Bronjong saja saat saya kesana belum ada 1 persen pengerjaanya, makanya saya tidak yakin kalau akhir Juli bisa selesai,” tegas Kades Jito.
Masih kata Kades Jito,” Sampai masyarakat kami yang menanam jagung itu airnya beli, hingga 6 toren setiap harinya, apa tidak kasihan mereka melihat perjuangan masyarakat kami seperti itu, demi mendapatkan hasil dari panen, makanya saya tekankan jika memang tidak ada sesuai jadwal pengerjaanya, saya ingin pasokan air ditambah, biar masyarakat khususnya para petani tidak merugi, kalau sudah gagal panen begini mau minta ganti rugi siapa,” tambahnya.
Gagal panen akibat proyek BBWSO tidak hanya di Serang, petani di Desa Masaran dan Kutayasa sebagian juga ikut kena imbas proyek yang belum jelas kapan akan selesai, karena menurut informasi hingga saat ini, RAB juga belum keluar dari pusat, sehingga membuat kontraktor yang ada di lapangan masih kebingungan. (Gunawan).














