Dua Kepala Sekolah Bondowoso Meringkuk di Jeruji Besi, Lantaran Kasus Block Grant 2019

  • Bagikan
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah SMSI-MURI-C-1.png

BONDOWOSO – Dua terdakwa kasus Block Grand yang bergulir sejak 2019, saat ini Kejaksaan negeri Bondowoso menjebloskan dua Kepala Sekolah ke penjara karena telah terbukti beralah dalam persidangan.

Keduanya merupakan Kepala sekolah yang masih aktif menjabat di Bondowoso. Terdakwa Harsana (52) merupakan Kepala SMPN 1 Pakem sedangkan Agus Prayitno (47) Kepala SDN Sukorejo, Sumberwringin.

Kepala Kejaksaan Negeri Bondowoso Hj Unaisi Hetty Nining SH MH, saat ditemui awak media mengatakan bahwa kedua terdakwa sebelumnya sudah menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya.

BACA JUGA :  Mengenal Figer Teh Yusni Rinzani, SE Calon Wakil Bupati Karawang Periode 2020 / 2025, Siap Mengemban Amanah Masyarakat

“Hari ini sidang putusannya yang digelar secara video conference bertempat di aula Kejaksaan Bondowoso,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya selasa (28/04).

Masih kata Unaisi dalam sidang putusan tersebut, kedua terdakwa mendapatkan vonis yang berbeda. Dimana terdakwa Harsana divonis 1 tahun 3 bulan penjara, sedangkan terdakwa Agus Prayitno di vonis 1 tahun penjara.

BACA JUGA :  Hari Pertama Operasi Patuh Semeru, SatLantas Polres Bondowoso Sosialisasi Keselamatan Berkendara dan Protokol Kesehatan 

“Terdakwa Agus Prayitno vonisnya lebih ringan karena mengembalikan seluruh kerugian negara. Sedangkan terdakwa Harsana hanya mengembalikan sebagian saja. Makanya vonisnya lebih berat,” tuturnya.

Pihaknya menerangkan, dengan adanya vonis dari pengadilan Tipikor tersebut. Maka Kejaksaan Bondowoso langsung membawa ke-dua terdakwa ke Lapas IIB Bondowoso untuk menjalani masa hukuman.

“Selesai persidangan hari ini juga semua berkasnya lengkap, keduanya langsung kita kirim ke Lapas Bondowoso,” terangnya.

BACA JUGA :  Inisiatif Bripka Eko Ahlan Bentuk MOBRIG37 Untuk Membantu Masyarakat Bondowoso

Ia menjelang bahwa, kedua kepala sekolah tersebut tersandung kasus korupsi Block Grant. Pelaksanannya pada 2018. Sedangkan pada 2019, kejaksaan melakukan penyelidikan sampai menentukan tersangka.

“Kerugian negara untuk AP berjumlah Rp 72,1 juta. Sedangkan HRS mencapai Rp 129,7 juta. AP telah mengembalikan seluruh kerugian negara tersebut. Sedangkan HRS hanya mengembalikan sebagian,” pungkasnya.

  • Reporter : Arik Kurniawan
  • Publikasi : Yadi/Hosairi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan