Politik

Petani di Taliabu Minta Di Nomor Satukan, Sashabilla Mus: Pertanian dan Nelayan Tulang Punggung Peradaban

187
×

Petani di Taliabu Minta Di Nomor Satukan, Sashabilla Mus: Pertanian dan Nelayan Tulang Punggung Peradaban

Sebarkan artikel ini
Calon Bupati Pulau Taliabu
Cabup-Cawabup Pulau Taliabu nomor urut 1 Sashabila Mus dan La Ode Yasir usai kampanye di Desa Bapenu.

Taliabu, LENSANUSANTARA.CO.ID – Salah satu tokoh masyarakat di Desa Bapenu, Kecamatan Taliabu Selatan, tantang pasangan Cabup-Cawabup Pulau Taliabu nomor urut 1 Sashabila Mus dan La Ode Yasir bicara kepentingan petani yang dikeluhkan tidak menjadi prioritas. Hal tersebut disampaikan La Sanusi saat menghadiri kampanye paslon akronim SAYA TALIABU di Desa Bapenu. (09/10).

Menurut La Sanusi, kehidupan pertanian harus menjadi prioritas utama dibandingkan dengan kepentingan pembangunan lainnya. Sehingga kata dia, kepentingan petani haruslah menjadi yang paling di nomor satukan.

Example 300x600

“Kami petani ini sangat berkontribusi bagi kemajuan dari segala aspek, tapi kami selalu menjadi pahlawan yang dilupakan. Untuk itu saya harapkan kepada calon Bupati untuk bisa memaparkan program pertanian, karena saya melihat di baliho paslon nomor satu hari ini program untuk pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan diurutkan pada poin empat, padahal seharusnya petani harus di nomor satukan,” tantang La Sanufi.

Menjawab hal tersebut, Sasha menyebutkan bahwa Petani dan Nelayan merupakan tulang punggung peradaban, dan program yang diusung pasangan SAYA TALIABU adalah program menuju Taliabu yang Mandiri, Unggul, Damai dan Adaptif dalam segala bidang termasuk bidang pertanian dan nelayan.

BACA JUGA :
Menuju Perubahan Taliabu, Sashabila Mus dan La Ode Yasir Hadir dengan Semangat Baru

“Saya memiliki keyakinan bahwa petani dan nelayan kami adalah tulang punggung peradaban, bukan sekedar tulang punggung ekonomi. Karena dari sumber kehidupan, pertanian dan perikanan tidak sedikit anak-anak bisa sekolah, kesehatan bisa di akses, infrastruktur juga dianggap investable, pantas atau layak karena dilihat adanya perkembangan,” ungkap Sasha.

Pihaknya beralasan, kenapa harus mengutamakan kemandirian, keunggulan dan adaptif karena dalam 10 tahun terakhir bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia banyak sekali terjadi perubahan ekonomi yang begitu dinamis.

“Jadi memang dibutuhkan bukan masalah ketahanan pasar saja, tapi ketahanan para petani berubah sesuai dengan perkembangan yang ada,” sebutnya.

Tambah Sasha, pasar di Taliabu aksesnya masih sangat terbatas, lantaran belum adanya keseriusan dan perencanaan untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat secara detail terutama pemerintah daerah melalui bidang terkait.

“Mohon maaf sekali, tapi saya harus jujur melihat badan promosi daerah belum bekerja secara maksimal, padahal tugas mereka adalah memastikan bahwa produk-produk asli daerah bukan hanya soal tambang itu memiliki pasar dan dan pembeli supaya ada perputaran ekonomi yang lebih cepat,” katanya.

BACA JUGA :
SAYA TALIABU Berdialog dengan Warga Desa Kramat, Memperkuat Ikhtiar Maju untuk Semua

Ia menyebut, potensi pertanian dan nelayan masih dibeli dengan harga tengkulak yang cukup rendah, sehingga berdampak buruk terhadap perputaran ekonomi yang belum mengikuti harga pasar.

“Harga pasar tidak berlaku di Taliabu secara langsung, hal itu justru dilaksanakan di Luwuk atau di Kendari sebagai daerah penerima hasil alam dari Taliabu. Sehingga petani dan nelayan di Taliabu walaupun harga pasar tinggi, mereka tidak sejahtera karena harga yang dibeli tidak sesuai dengan harga pasar,” bebernya.

Putri sulung Tokoh Pemekaran Kabupaten Pulau Taliabu AHM itu menilai, perlu adanya intervensi pemerintah atas kegagalan terhadap harga pasar dengan memprioritaskan peningkatan daya beli.

“Bukan cuma daya beli di pasar, tetapi juga daya beli para petani dan nelayan, daya beli alat, daya beli pupuk, hal hal yang memang dibutuhkan untuk memastikan bahwa produktifitas dan kualitas para petani bisa di jaga,” jelasnya.

Bagi Sasha, jika produktivitas menurun, maka pasar tidak akan tertarik melihat ketidakpastian. Sehingga penting untuk tawarkan kepastian hukum, kepastian bisnis supaya pasar itu bisa terbuka.

BACA JUGA :
Diduga Amankan Dokumen Palsu, KPU Pulau Taliabu dan Bawaslu Dilaporkan ke DKPP RI

“Saya berharap dengan program SAYA TALIABU di bidang pertanian dan nelayan, Taliabu bisa berubah satu persen pertahunnya untuk ekonomi. Kalau ada yang menjanjikan 5 persen bahkan negara ini pun kesulitan-kesulitan apalagi Taliabu yang masih termasuk dalam golongan daerah 3T alias daerah Tertinggal Terdepan, Terluar,” tegasnya.

Sasha juga menawarkan kepastian keberlanjutan ekonomi masyarakat dengan prioritas jalan tani yang bersumber dari APBD, sedangkan jalan lingkar yang anggarannya lebih relatif mahal akan diupayakan menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi, karena postur APBD Kabupaten Pulau Taliabu masih sangat terbatas.

“Dengan adanya jalan tani, masyarakat akan memiliki akses yang lebih lancar, insya Allah jalan di desa pun dengan sendirinya bisa membaik. Karena saya tau masyarakat Taliabu ini hobi gotong royong,” tutupnya.

Diketahui, selain memastikan pupuk yang mudah di jangkau bagi para petani, pasangan Sashabila Mus – La Ode Yasir juga bakal memastikan pasar terbuka, dan memastikan adanya pendampingan para petani dan nelayan sebagai bentuk penghargaan atas jasa para petani dan nelayan dalam menciptakan peradaban.