Berita

Divonis Hamil Pakai Tes Kedaluwarsa, Siswi SMP Ternyata Usus Buntu: Kelalaian Puskesmas Talawi Sawahlunto Terbongkar

1578
×

Divonis Hamil Pakai Tes Kedaluwarsa, Siswi SMP Ternyata Usus Buntu: Kelalaian Puskesmas Talawi Sawahlunto Terbongkar

Sebarkan artikel ini
Foto: Puskesmas Talawi, Sawahlunto

Sawahlunto, LENSANUSANTARA.CO.ID — Seorang siswi kelas III SLTP di Kecamatan Talawi, Sawahlunto, sempat dinyatakan “positif hamil” berdasarkan pemeriksaan awal di fasilitas kesehatan, sebelum hasil laboratorium rumah sakit membalik seluruh kesimpulan itu, tidak ada kehamilan, melainkan usus buntu akut yang harus dioperasi. Di antara dua hasil medis yang saling bertolak belakang itu, keluarga menyebut kabar awal sudah lebih dulu menyebar dan meninggalkan tekanan psikologis pada anak berusia 15 tahun tersebut sebelum diagnosis akhir ditegakkan secara medis.

Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, awak media melakukan penelusuran pada Rabu, 22 April 2026, dengan mendatangi rumah keluarga di Talawi.

Example 300x600

Siswi tersebut adalah “NA” panggilan kesayangan “O” (15), pelajar sebuah SMP Negeri di Talawi.

Nyeri yang Tak Pernah Sembuh Selama Dua Tahun

Keluhan bermula jauh sebelum peristiwa April 2026. Menurut keluarga, “NA” sudah dua tahun mengalami nyeri perut kanan yang datang dan pergi.

“Kadang sembuh, kadang kambuh lagi,” kata ayahnya, IS (40).

Namun pada awal April 2026, rasa sakit itu tidak lagi mereda.

Pada 4 April 2026, “NA” dibawa ke Puskesmas Talawi oleh “SHS” (34), didampingi adik sepupunya “WV” (31), dalam kondisi menahan nyeri yang semakin parah.

Di Ruang Pemeriksaan: Urine, Tespack, dan USG

Menurut keterangan keluarga, setibanya di Puskesmas, “NA” diminta duduk di tempat tidur dan diminta memberikan sampel urine tanpa pemeriksaan lain terlebih dahulu.

BACA JUGA :
Hadapi Pemotongan Dana Transfer, Sawahlunto Terapkan ‘Survival Budget’ dalam APBD 2026

Tak lama kemudian, petugas kembali dan menyodorkan tespack kepada “SHS” dengan hasil positif hamil.

“Pemeriksaan dilanjutkan dengan USG oleh dr. Teguh. Dari hasil tersebut, menurut keterangan keluarga, dokter menunjuk bagian yang disebut sebagai ‘kantong’ yang terlihat berisi. Meski sempat muncul penyebutan istilah organ tertentu dalam komunikasi awal keluarga, namun dalam klarifikasi lanjutan, pihak keluarga hanya menekankan bahwa visual ‘kantong’ yang berisi itulah yang kemudian ditafsirkan sebagai indikasi kehamilan.”

Dokter kemudian bertanya:
“Kapan terakhir dia haid?”

“SHS” menjawab:
“Baru siap haid.”

Ketika ditanya lebih lanjut, “SHS” menyampaikan:
“Kenapa begitu, Pak?”

Menurut keterangan keluarga, dr. Teguh menjawab:
“Karena berisi, dia hamil.”

Tangis, Penolakan, dan Ucapan “Mengaku Sajalah”

Mendengar penjelasan tersebut, “NA” menangis dan menjerit, berulang kali menyatakan bahwa ia tidak pernah berbuat tidak senonoh.

Namun menurut keterangan keluarga, seorang bidan kemudian berkata:
“Jangan menangis, mengaku sajalah.”

“SHS” menolak keras dan menyatakan mengenal keseharian anaknya:
“Tidak mungkin “NA” berbuat begitu.”

Meski demikian, menurut keluarga, dokter dan bidan tetap menyampaikan bahwa “NA” positif hamil, serta menyarankan pemeriksaan lanjutan ke Batusangkar:
“Jika tidak percaya, bawalah anak ini ke Batusangkar supaya lebih yakin.”

“NA” kemudian diberi Paracetamol satu butir. Saat “SHS” menanyakan alasan pemberian obat tersebut, dijelaskan bahwa itu obat bagi wanita hamil yang sakit. “NA” kemudian diminta pulang, sambil kembali disarankan melakukan pemeriksaan lanjutan.

BACA JUGA :
Wali Kota Riyanda Dampingi Gubernur Mahyeldi Safari Ramadhan di Masjid Agung Nurul Islam, Bantuan Capai Puluhan Juta Rupiah

Ucapan bidan, sebagaimana dituturkan keluarga:
“Baoklah ka Batusangka kok indak picayo, supayo labiah yakin, beko jan disangko kecek kami sajo.”
(Bawalah ke Batusangkar kalau tidak percaya, supaya lebih yakin, nanti jangan dianggap hanya kata kami saja.)

Fakta yang Baru Diketahui: Alat Tes Kedaluwarsa

Setelah kembali ke rumah, keluarga memeriksa alat tes kehamilan yang digunakan.

Tercatat masa kedaluwarsa: Maret 2026, sementara pemeriksaan dilakukan pada 4 April 2026.

Hasil Rumah Sakit: Diagnosis Berbeda

Pada hari yang sama, “NA” dibawa ke Rumah Sakit Sayang Ibu, Batusangkar.

Berdasarkan hasil pemeriksaan urinalisis tertanggal 04 April 2026:

“Tes kehamilan menunjukkan hasil negatif.”

Hasil tersebut ditandatangani oleh Dr. dr. Dwi Yulita, Sp.PK, yang menyatakan tidak ditemukan indikasi kehamilan secara laboratoris.

Pemeriksaan lanjutan di RSIA Sayang Ibu Batusangkar kemudian menetapkan diagnosis usus buntu akut, dan pasien dirujuk ke Rumah Sakit Umum Prof. Dr. M. Ali Hanafiah Batusangkar.

Di rumah sakit tersebut, hasil pemeriksaan kembali menunjukkan tidak adanya kehamilan, melainkan usus buntu akut dengan kadar leukosit mencapai 15.000.

Pasien kemudian menjalani tindakan operasi pada Senin, 6 April 2026.

Penyebaran Informasi di Lingkungan Sekolah

Persoalan tak hanya sampai disana tapi informasi bahwa Novi Hamil dan Di Aborsi ke Rumah sakit di Batusangkar kemudian menyrbar di tengah masyarakat dan lingkungan tempat Novi bersekolah.

BACA JUGA :
Dirut PT Bukit Asam Tinjau Langsung Kondisi Pedagang Pasar Silo Sawahlunto

Dalam pertemuan internal sekolah pada Kamis, 16 April 2026, saat membahas ketidakhadiran “NA” pasca operasi, seorang staf tata usaha bernama “P” disebut menyampaikan informasi terkait dugaan kondisi yang sebelumnya beredar.

Pernyataan tersebut kemudian dibantah oleh kepala sekolah dan sejumlah guru.

Menurut keluarga, “IS” memperoleh informasi melalui wali kelas saat melakukan klarifikasi terkait kabar yang beredar.

Pihak keluarga kemudian mendatangi sekolah dan menanyakan sumber informasi tersebut kepada “P”.

Saat ditanya, menurut keterangan keluarga, “P” tidak menyebutkan sumber awal informasi.

“SHS” menyampaikan keberatan dan meminta kejelasan atas informasi tersebut.

Pihak keluarga juga menyebut “P” menyampaikan akan memberikan penjelasan melalui WhatsApp, namun menurut keluarga, pesan tersebut tidak dibalas.

Dampak pada Anak

Sejak kembali ke sekolah, keluarga menyebut “NA” menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia beberapa kali menangis, dan cenderung menghindari percakapan ketika kabar tentang dirinya dibahas di lingkungan sekitar.

Di rumah, keluarga menyebut “NA” masih kerap menunjukkan rasa tidak nyaman ketika namanya disebut dalam percakapan.
“O” ndak ado mode tu do Yah, malu “O” disabuik-sabuik urang.”

Hingga berita ini terbit, Puskesmas Talawi belum menemui pasien maupun keluarga untuk memberi klarifikasi. Keluarga menuntut penjelasan atas dugaan kesalahan pemeriksaan yang meresahkan, sekaligus mempertanyakan tanggung jawab dan standar prosedur yang digunakan tenaga kesehatan.(*)