Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Masih banyaknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kabupaten Banjarnegara yang menjanjikan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita yang tidak sesuai selama ini, menjadi sorotan publik, dan memunculkan pertanyaan kwalitas ahli di tiap SPPG apakah benar-benar memahami kebutuhan makanan yang dibutuhkan untuk balita.
Padahal jika tidak sesuai, MBG yang dikonsumsi bisa mengakibatkan resiko besar kepada si balita, termasuk, mulai dari gangguan pencernaan, kekurangan kalori penting hingga keracunan jika menu tidak di masak dengan higienis.
Salah satunya di SPPG Purwonegoro, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara, terlihat menu untuk balita dan ibu menyusui terlihat sama, dan sangat jauh dari kata sesuai, sehingga MBG yang diberikan sempat menjadi perbincangan beberapa orang tua, karena terdiri dari ayam srondeng, tahu, acar kuah dan jeruk.
“Kalau ini bukan untuk balita, tapi orang tuanya, masak MBG untuk anak balita isinya sama dengan ibunya dan anak-anak sekolah yang menerima, itu sangat tidak cocok kalau disebut MBG Balita,” jelas Susanti, Selasa, (2/6/2026).
Padahal acar bisa menjadi bahaya dan memicu gangguan kesehatan jika balita mengonsumsinya secara berlebihan atau meminum kuah acarnya, karena lambung balita masih sangat sensitif sekali, apalagi jika di konsumsi sangat asam dapat memicu nyeri lambung, mulas, atau mual jika tertelan terlalu banyak.
Selain itu, banyaknya ahli gizi di SPPG yang hanya mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas gizi, banyak dijumpai MBG di Banjarnegara khusus balita dinilai sangat rendah, seperti porsi yang tidak sesuai, yang bisa menjadi dampak yang sangat membahayakan.
Kritik senada juga dilontarkan orang tua balita lainnya yang tidak mau disebutkan namanya, meskipun anaknya menerima MBG dari SPPG Purwonegoro, dirinya juga mengeluhkan menu yang didapatkannya, seperti ayam srondeng dianggap agak keras dan acar dianggap tidak memenuhi standard gizi.
“Makanan gitu bagi saya sebagai orang tua sangat tidak sesuai, karena kan ini banyak mengandung garam dan micin juga, padahal setahu saya kalau balita kebanyakan mengonsumsinya resikonya bisa berbahaya untuk kesehatan, harusnya kalau balita itu kan makanan seperti bubur, susu, itu malah bisa dimakan dan mengandung gizi, ini tadi saya yang makan malahan,” jelasnya.
Padahal dalam penelitian para ahli gizi mengatakan, jika balita terlalu banyak mengonsumsi garam dan micin resikonya sangat berbahaya, karena dapat memicu gangguan di ginjal, dengan alasan organ tersebut belum berkembang sempurna, sehingga jika kelebihan natrium membebani sangat membebani, dan selain itu, rasa gurih berlebih bisa membentuk kebiasaan pilih-pilih dan menolak makanan sehat, dan juga bisa mengakibatkan obesitas dan hipertensi. (Gunawan).














