Sawahlunto, LENSANUSANTARA.CO.ID – Tim Geopark Sawahlunto mengajak siswa-siswi SDN 16 Sikalang untuk mengenal lebih dekat salah satu kekayaan hayati khas Geopark Sawahlunto, yakni Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus titanum), dalam kegiatan edukasi lingkungan yang dilaksanakan di kawasan geosite Air Terjun Bikan, Desa Rantih, Senin (15/6/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Efdi, serta didampingi sejumlah guru SDN 16 Sikalang. Di lokasi habitat alami tumbuhan tersebut, para siswa diperkenalkan dengan anatomi, siklus hidup, dan ekologi bunga bangkai agar lebih mengenal serta memahami pentingnya pelestarian spesies langka tersebut.
Efdi menjelaskan, Bunga Bangkai Raksasa merupakan salah satu keragaman hayati yang tumbuh di hampir seluruh wilayah Kota Sawahlunto. Tanaman yang masih satu keluarga dengan porang itu saat ini sedang berada pada fase pertumbuhan daun yang subur karena masih berada di awal musim kemarau.
“Anak-anak belum dapat menyaksikan bunga bangkai dalam kondisi mekar. Namun apabila mekar, tanaman yang saat ini memiliki diameter pangkal sekitar 40 sentimeter itu dapat menghasilkan bunga berdiameter hingga 150 sentimeter dengan tinggi mencapai 180 sentimeter,” jelas Efdi.
Menurutnya, peluang bunga bangkai tersebut untuk mekar pada tahun ini relatif kecil. Hal itu disebabkan kondisi musim kemarau yang terganggu oleh beberapa periode hujan sehingga kelembapan tanah di kawasan lembah habitatnya masih tetap terjaga.
“Bunga bangkai tahun ini kemungkinan tidak akan mekar karena musim kemarau terganggu oleh beberapa periode hujan sehingga kelembaban tanah di lembah ini masih terjaga,” katanya.
Meski tidak sedang berbunga, upaya pelestarian terus dilakukan. Di sekitar batang tanaman telah dipasang pagar kayu sebagai bentuk perlindungan dari tindakan yang dapat merusak pertumbuhannya.
“Walaupun sudah mulai melapuk, pagar tersebut masih menunjukkan bahwa tumbuhan ini dijaga oleh masyarakat Desa Rantih melalui Pokdarwis,” ujar Efdi.
Dalam kesempatan itu, Tim Geopark juga menemukan sejumlah anakan bunga bangkai yang belum mendapatkan perlindungan memadai. Bahkan, ditemukan beberapa batang yang telah mengalami kerusakan akibat dibabat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Temuan tersebut dijadikan bahan pembelajaran bagi para siswa tentang pentingnya menjaga warisan hayati dan menghindari tindakan yang merusak lingkungan. Edukasi sejak usia dini dinilai menjadi langkah penting dalam menumbuhkan kesadaran konservasi di kalangan generasi muda.
“Menjaga dan melestarikan alam harus dimulai sejak kecil. Saat kecil terbawa-bawa, saat remaja terbiasa, dan ketika dewasa tidak terlupa,” tutup Efdi.
Melalui kegiatan ini, Geopark Sawahlunto berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan turut berperan aktif dalam menjaga kekayaan hayati yang menjadi bagian penting dari warisan alam Kota Sawahlunto.(Suherman)














