Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi Jember mencatat lonjakan kinerja signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026. Di bawah kepemimpinan Bupati Jember Muhammad Fawait dan Plt Direktur dr. Nyoman Semita, rumah sakit milik pemerintah daerah itu menunjukkan transformasi yang berdampak langsung pada peningkatan layanan dan kepercayaan publik, Rabu (25/2/2026).
Plt Direktur dr. Nyoman Semita, mengatakan bahwa Berbagai indikator utama mengalami kenaikan tajam, mulai dari pendapatan, jumlah kunjungan pasien, hingga tindakan medis kompleks. Capaian ini menandai pergeseran citra RSD Soebandi menjadi rumah sakit pemerintah dengan standar pelayanan yang kian kompetitif.
“Pendapatan rumah sakit pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp31,7 miliar atau meningkat sekitar 100 persen dibanding rata-rata bulanan sebelumnya yang berkisar Rp15 miliar. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya aktivitas layanan sekaligus efektivitas pengelolaan manajemen,” ujarnya.
Peningkatan juga terlihat pada layanan rawat jalan yang kini melayani sekitar 1.300 pasien per hari, naik signifikan dari rata-rata 800 pasien per hari pada tahun sebelumnya. Beberapa poli spesialistik menjadi penyumbang utama kenaikan, di antaranya layanan ortopedi yang melonjak lebih dari dua kali lipat serta layanan onkologi yang meningkat hampir 90 persen.
“Tidak hanya pada layanan rawat jalan, jumlah tindakan operasi juga meningkat dari sekitar 800 menjadi 1.200 kasus per bulan. Sementara itu, layanan kateterisasi jantung mencatat kenaikan paling drastis, dari 65 menjadi 175 tindakan, mempertegas posisi RSD Soebandi sebagai salah satu rumah sakit rujukan di wilayah timur Jawa Timur untuk penanganan kasus kompleks,” menurutnya.
Lonjakan kunjungan berdampak langsung pada tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang kini berada di kisaran 85 hingga 100 persen, naik dari sebelumnya sekitar 58 persen.
“Beberapa ruang rawat inap bahkan mengalami kelebihan kapasitas, sementara paviliun rumah sakit dilaporkan hampir selalu penuh dalam beberapa pekan terakhir,” jelasnya.
Tekanan layanan juga terlihat pada Instalasi Gawat Darurat, di mana kunjungan kasus darurat meningkat dari rata-rata 45 menjadi 80 pasien per hari, bahkan sempat menembus lebih dari 100 kasus.
“Kondisi tersebut membuat puluhan pasien harus menunggu ketersediaan ruang rawat inap, sehingga penambahan kapasitas tempat tidur menjadi kebutuhan mendesak,” terangnya.
Manajemen rumah sakit menilai peningkatan ini sebagai indikator naiknya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan. RSD Soebandi kini dikenal dengan pelayanan yang lebih cepat, tenaga kesehatan yang komunikatif, serta fasilitas yang semakin nyaman, termasuk penguatan layanan spesialis dan subspesialis.
“Ke depan, rumah sakit berkomitmen melakukan pengembangan berkelanjutan, mulai dari penambahan kapasitas layanan, penguatan sumber daya manusia medis, hingga peningkatan mutu pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien,” imbuhnya.
RSD Soebandi juga menyiapkan arah pengembangan menuju rumah sakit modern berbasis konsep green hospital, tourism hospital, hospital without wall, serta sister hospital untuk memperluas jejaring layanan.
“Transformasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Jember, tetapi juga memperkuat posisi rumah sakit daerah sebagai institusi kesehatan publik yang profesional, adaptif, dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya.














